Minggu-minggu terakhir ini, berbagai kelompok dan serikat buruh gencar menyelenggarakan rapat-rapat persiapan menyambut International Women’s Day (IWD) 2018. Sepanjang “Berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti,” dan sepanjang ada kehendak kuat untuk mendorong perubahan, rapat persiapan aksi semacam ini akan terus dilakukan. Seperti yang sudah-sudah, kalau rapat berlangsung terlalu lama, pesertanya bukan cuma kelelahan. Juga gelisah dan kelabakan mencari sambungan listrik, karena baterai handphone mulai habis. Pemandangan semacam ini makin sering kita saksikan, karena kebanyakan orang sekarang punya handphone, bahkan lebih dari satu.

Saya akan menyingkir sejenak dari pembicaraan tentang IWD. Saya cerita sedikit tentang baterai. Orang sering menyebutnya dengan batu baterai. Benda kecil sepele yang kita gunakan sehari-hari. Kata guru ilmu alam saya dulu, baterai berfungsi untuk menyimpan energi. Energi listriknya bisa dilepaskan untuk menggerakan robot/mobil mainan anak-anak, menyalakan lampu senter; menjalankan kalkulator, komputer, dan tentu saja, handphone!  Baterai tertanam di alat bantu dengar dan alat pacu jantung, sehingga amat membantu untuk orang-orang lanjut usia dan sakit. Baterai yang terpasang di remote-control, membuat bahagia para pemalas yang senang memindah-pindahkan saluran televisi tanpa harus bangkit dari kursi.

Kita di Indonesia rupanya belum terlalu lama berkenalan dengan batu baterai. Penggunaan batu baterai semakin luas seiring populernya radio transistor. Radio transistor semula adalah barang impor mewah, baru diproduksi di dalam negeri tahun 1954 di Cawang, Jakarta. Sementara produsen baterai merek ABC pertama kali membuka pabrik tahun 1959 di Medan, kemudian Jakarta dan Surabaya. Bayangkan! Pada waktu itu belum banyak rumah yang terlayani jaringan listrik. Orang masih memakai lampu teplok dan petromak berbahan bakar minyak tanah untuk menerangi rumah di malam hari. Mereka mengandalkan radio transistor bertenaga baterai, untuk mendapatkan berita nasional, mendengarkan musik hiburan, siaran sepakbola dan pidato Soekarno.

Zaman sekarang, baterai tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran. Ada baterai biasa, ada baterai heavy duty yang diiklankan lebih awet dan bertenaga. Dulu hanya dikenal satu jenis baterai, yaitu jenis baterai pakai sampai habis (lalu buang), sementara sekarang kita semakin akrab dengan baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable).

Informasi dan pengetahuan tentang baterai juga semakin mudah ditemukan. Kalau mau tahu jenis dan masa-pakai baterai, periksa saja keterangan di kotak pembungkusnya. Tentang cara merawat dan menggunakan baterai handphone, temukan saja di internet. Dulu informasi benar, yang berdasar ilmu pengetahuan, lebih susah diperoleh. Waktu kecil saya pernah diajari guru sesat tentang cara memulihkan baterai yang tenaganya melemah. Katanya, cara memperpanjang usia pakai baterai adalah dengan dibakar, dikemplang pakai palu, atau dijemur di bawah matahari. Sekarang saya tahu, itu semua pengetahuan palsu. 

***

Jika baterai adalah penyimpan energi listrik; pabrik menganggap buruh sebagai wadah penyimpan tenaga. Tepatnya, tenaga kerja. Jika baterai bisa dibeli di kios sebelah rumah, buruh dijajakan ke pabrik oleh agen-agen penyalur. Para penyalur tersebut bisa berwujud kepala desa serakah dan perusahaan pencari untung yang sering menyaru sebagai yayasan (agar terkesan suka menyantuni anak yatim). Mereka menjajakan buruh dalam berbagai jenis dan ukuran: laki-laki dan perempuan; tidak berpengalaman, sedikit pengalaman, berpengalaman; dari calon operator mesin, office boys, cleaning service, supir, sampai satpam. Kunci keberhasilan dalam usaha-dagang ini adalah: lupakan buruh sebagai manusia. Kutuk saja mereka barang kelontong yang bisa diperjualbelikan.

Pabrik paham betul bahwa, sebagaimana baterai, tenaga buruh bisa sewaktu-waktu melorot dan habis. Maka, harus dicari caranya agar buruh tetap bersemangat, bekerja serajin dan selama mungkin. Banyak perusahaan memulai hari kerja dengan mengumpulkan buruhnya di ruang aula, untuk diberi wejangan tentang produktivitas (dan bukan keuntungan perusahaan). Dilanjutkan dengan menyanyikan himne puja-puji kepada perusahaan, dan ditutup dengan teriakan atau yel-yel pembangkit semangat. Perusahaan besar ada kalanya menyewa seorang juru pompa semangat; biasanya disebut konsultan atau motivator. Tugasnya antara lain adalah mengarang cerita tentang kemuliaan pemberi kerja. Agar perusahaan terlihat penuh welas-asih seperti nenek di kampung halaman, murah hati seperti mertua idaman, dan bijaksana seperti tokoh-tokoh baik dalam sinetron.  

Cara lain mempertahankan semangat kerja adalah dengan menciptakan kompetisi antar regu kerja. Sebuah perusahaan metal di Bekasi setiap bulan memberikan plakat penghargaan untuk regu kerja yang paling produktif. Sementara, regu yang terburuk dipermalukan, diharuskan memakai kalung mainan yang konyol. Itu belumlah cara terburuk. Sebuah perusahaan tekstil besar di Rancaekek, Bandung, mempertahankan produktivitas kerja pada shift malam dengan menciptakan semacam ‘sistem pengaduan.’ Tepatnya, sistem adu-domba. Buruh yang kedapatan kerja lambat atau tertidur dilaporkan (bila perlu dipotret) oleh temannya sendiri ke pengawas. 

Baterai yang masa-pakainya akan mati dengan sendirinya. Pada manusia, itu disebut dengan ambruk pingsan di pabrik atau tempat kerja. Akibat lembur berkepanjangan, tubuh yang kelelahan menghentikan dirinya sendiri. Hal yang sering terjadi di pabrik tektil, garmen, alaskaki, dan elektronik ringan; seluruhnya industri padat karya yang banyak mempekerjakan buruh perempuan. Pabrik lazim juga memasang pengawas (berbentuk manusia dan kamera), untuk mempersempit peluang bagi buruh untuk sekedar tarik nafas atau pergi ke toilet. Sering ada penjelasan bahwa buruh yang pingsan di tempat kerja adalah karena kesalahannya sendiri. Karena melewatkan sarapan dan makan siangnya tidak bergizi. Tapi jika upah terlalu rendah, bagaimana mungkin buruh sanggup mempertahankan asupan makanan bahkan untuk mendapatkan makanan yang bermutu?!

Kalau baterai bisa dipaksa bekerja sampai usia-pakainya habis (lalu dibuang), tubuh manusia tidaklah begitu. Jam kerja panjang keja dan target produksi serta dilakukan terus-menerus merusak kesehatan, dan kerja malam menyalahi siklus alami tubuh. Karena tubuh perempuan mengikuti siklus menstruasi, buruh perempuan berhak akan cuti haid.  Lagi pula, sesudah delapan jam bekerja, orang lebih dari layak untuk beristirahat. Mereka berhak melakukan apapun yang berguna dan menyenangkan dalam hidup: bermain, bercengkerama dengan keluarga, menyapa tetangga, membalas pesan Whatsapp dan Facebook dari teman dan kerabat, membaca, dan berserikat. Ya! Berserikat adalah kegiatan yang menyenangkan. Atau, sekedar tidur dan bermalas-malasan. Mengapa tidak?!

Kembali ke sektor manufaktur padat karya; cara tubuh untuk mengistirahatkan diri barangkali adalah dengan kesurupan. Bahkan kesurupan massal satu pabrik. Jika ada kejadian seperti ini, pabrik sering cari aman dengan ikut-ikutan menuding setan gundul (yang konon sudah 300 tahun bersemayam  di lorong gelap dekat gudang) sebagai biang keladinya. Tentu saja itu sulit dibuktikan. Mustahil terjadi, setan gundul yang bersangkutan datang ke kantor polisi mengadukan perkara fitnah atau pencemaran nama baik.

Tak pernah dipertimbangkan bahwa kesurupan terjadi karena fisik dan mental yang lelah akibat tekanan pekerjaan. Pelayan restoran dan penjaga toko pakaian merek mahal mungkin jengkel, sesudah membandingkan upahnya yang kecil dengan angka yang tertera struk belanja dari pelanggan yang dilayaninya. Otaknya mulai berpikir tentang keuntungan perusahaan. Buruh perempuan yang kesurupan pabrik garmen mungkin muak bertahun-tahun diupah murah, kenyang menelan umpatan jorok (karena mereka perempuan), dan bosan direndahkan sebagai buruh low-skilled yang bodoh (karena tak menamatkan pendidikan filsafat di Universitas Sorbonne, Perancis).

Jam kerja panjang dan upah minimum belumlah keadaan terburuk. Bisa terjadi, sudah pula upahnya murah, tak dibayarkan penuh pula, karena pengusaha mengemis fasilitas penangguhan upah kepada pemerintah. Upah murah dan dan jam kerja panjang sering menjadi penyebab pemogokan buruh. Alias, buruh menolak untuk menyerahkan tenaga kerjanya.

Apa cara harus ditempuh untuk menghadapi buruh yang mogok beramai-ramai? Poenale Sanctie 1880, undang-undang ketenagakerjaan zaman perkebunan kolonial, membolehkan majikan untuk memecut buruh kebun yang mogok, membangkang, atau melarikan diri. Meskipun undang-undang abad lalu itu sudah dicabut, penghukuman fisik yang kejam mungkin masih terjadi di pabrik.

Belum terlalu jauh dari peringatan IWD 2018; pada Kamis 19 Juli 2012, sesudah seminggu pemogokan di sebuah pabrik sepatu di Tangerang, buruh yang pagi itu berdatangan ke pabrik dikumpulkan manajemen di tempat parkir. Mereka dinasehati dan dimarahi karena ikut mogok. Lalu dijemur di bawah matahari. Kejadian ini memanggil ingatan masa kecil saya tentang tentang cara bodoh menghidupkan kembali baterai yang mogok.

Belakangan saya tahu bahwa menjemur buruh di bawah terik matahari bukan teknologi terbaru untuk menghukum dan mempermalukan. Sebuah laman Facebook melaporkan: akhir Februari lalu, sebuah pabrik pakaian anak terkenal di Bandung menghukum buruh yang tak memenuhi target, dengan memajangnya di sebuah kotak. Untuk dipajang dan dipertontonkan. Saya tidak punya komentar untuk penghukuman yang tidak manusiawi ini.

Menutup cerita, buruh bukan batu baterai dan kemanusiaan harus dikembalikan. Mudah-mudahan itu alasan yang lebih dari cukup untuk datang berbondong pada peringatan IWD 2018.

Baca juga:   Orang Jalanan: Tentang Para Pembangun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *