May Day 2018 di Semarang

Demonstrasi anggota KSPN Jateng 1 MeiMerupakan penanggalan untuk memperi... 2018 di Kota Semarang menuju kantor Gubernur Jawa Tengah. Foto/LIPS

Di 35 wilayah di Jawa Tengah, May Day dilaksanakan oleh lembaga tripartit daerah yang diikuti oleh pemerintah, organisasi pengusaha dan beberapa organisasi buruh. Kegiatannya diisi dengan jalan santai, panggung hiburan dan pembagian hadiah.  Tidak diketahui dengan pasti bagaimana acara tersebut berlangsung.

Dalam lima tahun terakhir, Jateng merupakan salah satu wilayah relokasi industri dari Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Sehari sebelum 1 Mei, Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan kepada media massa bahwa perbaikan infrastruktur membuat iklim ekonomi semakin membaik. Ia pun menyatakan bahwa kenaikan upah minimum sebaiknya tidak terjadi setiap tahun.

Barangkali, itulah yang dimaksud May Day is Fun Day dalam rangka menjaga hubungan harmonis antara pengusaha, pemerintah dan buruh, yakni iklim bisnis semakin baik dengan buruh yang patuh dan murah.

Ada pula peringatan May Day yang dilakukan dengan demonstrasi dan pawai yang dimulai sekitar pukul 9.00 pagi. Kegiatan ini dilakukan oleh tiga kelompok yang berbeda.

Kelompok pertama memusatkan demonstrasi di Patung Kuda Semarang. Kelompok ini terdiri dari LBH Semarang, Serikat Pekerja Lintas Media dan sejumlah mahasiwa. Para peserta mengangkat berbagai persoalan. Dari masalah perampasan tanah, pemenuhan hak buruh yang bekerja di industri media, hingga pemenuhan hak-hak buruh perempuan di tempat kerja.

Kelompok kedua merupakan gabungan massa buruh dari Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN), Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (SP KEP) dan Serikat Pekerja Perkayuan dan Kehutanan (SP Kahut). Mereka emusatkan demonstrasinya di kantor Gubernur Jawa Tengah. KSPN menurunkan lebih dari 8000 anggota untuk memeringati May Day. Di waktu yang berbeda massa dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) juga memusatkan demonstrasinya di tempat yang sama.

FSPMI menyatakan menolak upah murah dan mencabut PP 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, menuntut menurunkan harga beras, tarif dasar listrik, bangun kedaultan pangan dan energi, pilih capres yang proburuh dan rakyat, menolak TKA ilegal unskill workers, pemberlakuan upah sektoral, penghapusan perpanjangan jam kerja, dan penerapan struktur skala upah.

Kelompok ketiga adalah massa buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia, Federasi Serikat Buruh Garmen dan Tekstil Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FSB Garteks KSBSI), dan Persatuan Mahasiswa Pembebasan Nasional (Pembebasan). Mereka memusatkan demonstrasinya di Balai Kota Semarang.

Dalam orasinya, para pemimpin massa menolak politik upah murah dan pemenuhan hak berserikat.

Ada yang menarik dari pawainya kelompok buruh. Dengan menaiki sepeda motor dan angkutan umum, beberapa buruh membawa serta keluarganya. Ada pula keluarga buruh yang menaiki odong-odong dan mengibar-kibarkan bendera kecil mengikuti pawai massa.

Baca juga:   Berbagi Panggung, Melawan dengan Gembira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *