Peringatan May Day 2018 di Berbagai Negara

Lebih dari seratus negara di Asia, Eropa dan Amerika Utara memeringati May Day 2018 dengan pawai, teatrikal, rapat umum dan demonstrasi.

Seperti di Indonesia, di banyak negara 1 MeiMerupakan penanggalan untuk memperi... merupakan hari libur untuk mengingat perjuangan buruh. Jumlah negara maupun peserta May Day 2018 diperkirakan jauh lebih banyak ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Tak mau ketinggalan, para pemilik barang dan jasa memanfaatkan libur 1 Mei untuk menjual dagangannya dengan harga diskon. Sementara itu, aparat keamanan dipersiapkan untuk mencegah dampak lain dari peringatan hari buruh sedunia.

Amerika Serikat

Sejak April, para pekerja pendidikan dan pelajar di negara-negara bagian Amerika Serikat telah melaksanakan mogok menuntut penambahan dana pendidikan dan kenaikan upah. Pemogokan berlanjut hingga 1 Mei. Mereka pun menyatakan solidaritas kepada para buruh yang menuntut kenaikan upah. Di Chicago, demonstrasi digelar mencela kebijakan Donald Trump dan menuntut keadilan bagi buruh.

Di Puerto Rico, May Day diikuti oleh ribuan buruh, guru dan pelajar. Mereka menentang kenaikan biaya kuliah, penutupan sekolah-sekolah umum, pemotongan pensiun dan pengurangan hak-hak buruh. Demonstrasi yang berlangsung damai tersebut dibubarkan paksa oleh aparat keamanan sehingga menyebabkan ratusan orang termasuk anak-anak terluka.

Amerika Latin

Di negara-negara Amerika Latin, 1 Mei diramaikan ribuan massa yang melakukan parade di kantor-kantor pemerintahan. Di Kuba, lebih dari 900 ribu orang turun ke jalan memeringati May Day.

Di Chili, lebih dari 12 ribu massa berdemonstrasi di Santiago. Di Honduras ribuan massa yang terdiri dari pelajar dan buruh berdemonstrasi. Massa dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian yang menyebabkan puluhan peserta pawai luka-luka.

Sementara Di Brazil, ribuan massa berdemonstrasi dengan membawa slogan, ‘Pertahankan hak dan bebaskan Lula’. Peserta May Day menuntut pembebasan mantan Presiden Lula da Silva yang divonis duabelas tahun penjara pada April 2018 dengan tuduhan korupsi.

Australia

Lebih dari 10 ribu buruh dari berbagai organisasi di Australia, pawai dan berdemonstrasi di tempat dan hari yang berbeda. Seperti di Brisbane, Melbourne dan Sidney. Para buruh menuntut perubahan kebijakan pemerintah agar proburuh dan mengampanyekan hak atas pemogokan.

 

Foto: Pawai May Day 2018 di Australia. Foto/Subono

Asia

Di Jepang, May Day diperingati dengan demonstrasi menuntut pengurangan beban kerja. Di Pakistan, 1 Mei merupakan libur nasional. Tiap orang turun ke jalan menuntut perbaikan kondisi kerja.

Tak kurang dari 5000 orang berkumpul di Manila, Filipina. Mereka menagih janji Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Sewaktu masa kampanye, Duterte berjanji untuk mengakhiri praktik kerja kontrak jangka pendek, menaikan upah, mengurangi pengangguran dan menjamin kebebasan berserikat. Di Taiwan, massa berdemonstrasi menuntut 10 persen kenaikan upah minimum dan perbaikan kondisi kerja.

Di Korea Selatan, lebih dari 10 ribu buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU/Korean Confederation Trade Union) berdemonstrasi menuntut kenaikan upah minimum dan mengangkat buruh kontrak menjadi tetap. Para buruh pun menuntut pembatalan restrukturisasi industri galangan kapal dan mobil.

Eropa

Di belahan Eropa, peringatan May Day ditandai dengan pawai oleh ribuan massa di pusat-pusat kota. Di Belanda, sekitar 7000 dari berbagai golongan, termasuk para imigran dari Indonesia berdemonstrasi.  Tapi 1 Mei bukan hari libur.

Sekitar 70 kota di seluruh Spanyol dipenuhi peserta May Day. Mereka menuntut kenaikan upah yang setara bagi perempuan dan laki-laki, pengakhiran kekerasan berbasis jender di tempat kerja. Di Berlin, Jerman, sekitar 3000 orang berdemonstrasi memperingati May Day. Di Yunani, sedikitnya 7000 orang peserta May Day berjalan kaki dari gedung parlemen menuju Kedutaan Amerika Serikat. Mereka memprotes paket penghematan anggaran, mempersoalkan pengangguran dan krisis ekonomi yang tak kunjung berakhir sejak 2010.

Di Inggris, buruh-buruh yang pekerja restoran makanan cepat saji di McDonald’s menyerukan pemogokan. Mereka menuntut kenaikan upah minimum, hak berserikat dan penghapusan hubungan kerja kontrak.

Di Prancis, peringatan 1 Mei merupakan kelanjutan dari pemogokan menolak liberalisasi hukum tenaga kerja dan privatisasi layanan publik. Lebih dari 150 ribu buruh dan pelajar turun ke jalan. Aparat negara membubarkan paksa peserta May Day. Peserta May Day meluapkan kemarahannya dengan menyerang simbol-simbol kemapanan. Tak kurang 300 orang ditangkap kepolisian.

Represi kepada peserta May Day terjadi pula di Turki. Pemerintah Turki melarang peserta May Day berdemonstrasi di lapangan Taksim dan pawai di pusat kota. Para peserta marah dan melawan. Sekitar 80 orang pendemo yang bermaksud memasuki lapangan Taksim diciduk aparat negara. Taksim merupakan simbol perlawanan. Pada 1 Mei 1977, di lapangan Taksim 34 orang tewas ditembak secara brutal oleh aparat negara.

Di Rusia, sekitar 120 ribu buruh yang tergabung dalam federasi serikat buruh Moskow melakukan pawai dari Red Square menuju pusat kota. Tuntutan yang mereka sampaikan adalah menolak pemblokiran penggunaan aplikasi Telegram oleh pemeritah.

 

Baca juga:   Wajah Muda di Putaran Aksi Hari Perempuan
Demonstrasi May Day 2018 buruh migran Indonesia di Belanda. Foto/Ratna Saptari

***

Di Indonesia, peringatan 1 Mei berhadapan dengan pemilihan kepala daerah serentak Juni 2018.

Media massa mengangkat berbagai berita tentang demonstrasi menolak PP 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, pemecatan, kecelakaan kerja yang menimpa buruh sejumlah proyek jalan tol, pemberangusan serikat buruh, perampasan tanah untuk pembangunan bandara dan penggusuran di perkotaan.

Sebulan sebelum 1 Mei, Kementrian Ketenagakerjaan telah memiliki rencana memeringati May Day, sebagai Fun Day. Dengan menggandeng lembaga-lembaga tripartit di berbagai level dan pimpinan daerah, Kemnaker membujuk pimpinan serikat buruh dan masyarakat mengisi 1 Mei dengan kegiatan amal (karitatif).

May Day is Fun Day merupakan sejumlah kegiatan yang membutuhkan dana yang tidak sedikit; dari membuat dan menempel spanduk, membayar uang tambahan aparat keamanan, mendirikan panggung dangdut, menyelenggarakan turnamen olahraga, layanan kesehatan gratis, layanan pembuatan surat izin mengemudi (SIM) dan tablig akbar. Tampaknya, pemerintah dan pengusaha lebih rela mengeluarkan uang dan menghabiskan waktu melaksanakan kegiatan yang bersifat hura-hura ketimbang memenuhi kesejahteraan buruh dan memperbaiki layanan publik.

Di sejumlah kawasan industri beberapa spanduk berlogo kepolisian dan perusahaan dengan kalimat halus menyarankan agar buruh pulang kampung pada 1 Mei. Sejumlah poster dengan logo kepolisian beredar di media sosial mengajak masyarakat mengisi May Day dengan kegiatan olahraga. Rupanya kepolisian lupa bahwa banyak kasus pidana perburuhan yang tidak diselesaikan.

Tidak terlalu berhasil dengan cara di atas. Aparat negara menggunakan cara lain. Di sejumlah daerah surat tanda terima pemberitahuan pelaksanaan demonstrasi dipersulit. Akibatnya, peserta May Day terhambat menyewa armada bis untuk memberangkatkan massa demonstrasi. Cara lainnya, membatasi jumlah peserta yang akan mengikuti May Day.

Di kesempatan yang sama aparat keamanan gencar mendatangi dan menelepon para pemimpin serikat buruh. Mereka membujuk, bahkan bersedia menanggung semua biaya peserta jika bergabung dalam kegiatan May Day is Fun Day.

Spanduk di kawasan industri Hyundai Bekasi Jawa Barat, 24 April 2018 | Foto: Dok. Forum Buruh Perempuan

Saat pelaksanaan May Day, serikat-serikat buruh yang bermaksud melaksanakan May Day di Jakarta nyaris tidak dapat berkumpul dengan kawan-kawannya. Beberapa titik menuju Istana Negara di blokade aparat kepolisian.

Sebenarnya, upaya mengendalikan May Day dengan kegiatan karitatif berlangsung

sebelum 1 Mei ditetapkan kembali sebagai hari libur nasional. Bahkan, serikat-serikat buruh yang sebelumnya menolak 1 Mei sebagai hari peringatan, apalagi dijadikan sebagai libur nasional, berubah menjadi pejuang May Day karitatif.

Bagi sebagian besar serikat buruh, 1 Mei memiliki nilai khusus. Meski dihalang-halangi, serikat buruh tetap memeringati May Day. Serikat-serikat buruh menggunakan momentum 1 Mei untuk membangun aliansi baru atau memperkuat aliansi yang sudah lama.

Tak kurang dari 25 provinsi serta 100 kota dan kabupaten memperingati May Day dengan pawai, demonstrasi, teatrikal dan bernyanyi. Massa yang terlibat terdiri dari buruh pabrik, buruh rumahan, kaum tani, pemuda-pelajar dan kelompok perempuan. Isu yang diangkat menyangkut kekerasan di tempat kerja, perlindungan bagi perempuan pekerja rumahan, hak untuk berorganisasi, menolak upah murah, menolak penggusuran hingga perampasan tanah.

Di Jakarta, May Day diperingati oleh tiga kelompok yang berbeda, yaitu kelompok pendukung pemerintah, kelompok pendukung calon presiden baru dan kelompok yang tidak yang tidak termasuk di dua kelompok tersebut. Karena sedang menghadapi pemilihan kepala daerah, gejala serupa terjadi pula di beberapa daerah. Pada kesempatan tersebut tak jarang pemimpin daerah atau calon kepala daerah menjadi sosok yang penuh perhatian; hadir di tengah massa atau membuat kontrak politik.

Metode kontrak politik telah berlangsung sejak 2004. Tidak hanya serikat buruh, serikat mahasiswa maupun tani kerap menggunakan metode kontrak politik untuk memastikan calon pilihannya melaksanakan program sesuai harapan, jika terpilih. Seperti diketahui, kekuatan kapital seringkali lebih besar ketimbang kapasitas pejabat negara, apalagi ikatan kontrak politik hanya memiliki konsekuensi moral.

Di Eropa, May Day memiliki tiga makna, yaitu hari libur panjang untuk perbankan, hari buruh internasional, hari berpesta sebagaimana kaum pagan di zaman Romawi kuno. Barangkali slogan May Day is Fun Day mengikuti model ketiga dari pengertian May Day di Eropa.

Editor: Alfian al-Ayyubi Pelu, Fahmi Panimbang

Penulis: Bambang Dahana, Dina Septi, Wiranta Yudha, Rizal Assalam (Hong Kong)

Foto dan cerita: Ratna Saptari (Belanda), Subono dan Irwansyah (Australia)

Laporan selanjutnya;

Bandung dan Perth Memperingati May Day

Poster dan Spanduk Unik Selama May Day

Anti Unskilled Workers atau Solidaritas Internasional?

May Day 2018 di Semarang

Perayaan May Day di Hong Kong: Aksi Bersama ‘Pribumi’ dan TKA

 

Baca juga:   Pemecatan sebagai Strategi Mempertahankan Buruh Murah

Referensi

Fidler, Matt. May Day rallies around the world – in pictures. 1 Mei 2018. Tersedia:

https://www.theguardian.com/world/gallery/2018/may/01/may-day-rallies-around-world-2018-in-pictures, diakses pada 5 Mei 2018

Asia: Workers Participate in May Day Rallies. 1 Mei 2018. Tersedia:

https://www.telesurtv.net/english/news/Asia-Workers-Participate-in-May-Day-Rallies-20180501-0012.html, diakses pada 5 Mei 2018

Workers March in Europe for May Day. 1 Mei 2018. Tersedia:

https://www.telesurtv.net/english/news/Workers-March-in-Europe-for-May-Day-20180501-0028.html, diakses pada 5 Mei 2018

Alviar, Maecy., et. all. Workers around the world mark May Day: International Labor and Solidarity Day marked with large rallies and demonstrations. 1 Mei 2018.

https://www.aa.com.tr/en/europe/workers-around-the-world-mark-may-day/1132645, diakses pada 6 Mei 2018

May Day marchers in Brazil demand Lula’s release from jail. 1 Mei 2018.

https://www.efe.com/efe/english/world/may-day-marchers-in-brazil-demand-lula-s-release-from-jail/50000262-3602488#, diakses pada 6 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *