Reading Time: 4 minutes   Tanggal 04 November 2016 adalah hari yang akan selalu diingat oleh rakyat Indonesia. Pada hari itu, puluhan ribu massa umat Islam dari segala penjuru datang ke Monas menuntut Gubernur Jakarta Basuki Purnama alias Ahok dipenjara karena kasusnya yang dianggap melecehkan agama. Di hari yang sama pula aku selalu mengingat kejadian yang aku rasakan. Bersama puluhan temanku, buruh perempuan PT Panarub Dwikarya di Tangerang, untuk ratusan kalinya kami kembali melakukan aksi unjuk rasa. Tapi berbeda dengan aksi-aksi yang biasa kami lakukan, hari itu kami berencana melakukan aksi di waktu malam. Melakukan doa bersama lintas agama dengan menyalakan lilin. Aksi kami adalah untuk menuntut pemilik PanarubRead More →

Reading Time: 4 minutes Ficky Alfira Wiratman Aku bekerja di PT Grahawita Cendikia, perusahaan yang mengelola bisnis perhotelan, yaitu Hotel Santika Bogor. Aku bekerja sebagai steward di Departement Food and Beverage Product. Pada 22 Juli 2016 aku menandatangani kontrak kerja dengan status daily worker dengan gaji Rp 125.000 per hari. Dalam surat perjanjian tercantum hanya 8 jam kerja. Nyatanya, aku bekerja 12 jam per hari. Selama bekerja aku membeli sendiri atribut sebagai pekerja, seperti sepatu safety. Posisiku bekerja yaitu di dapur selalu berurusan dengan alat-alat dapur, pengoperasian mesin, chemical dan air. Alat dan bahan-bahan yang aku kerjakan turut merusak sepatu kerja. Lapisan kulit luar sepatu akan terlihat rusak danRead More →

Reading Time: 5 minutes Pada malam yang gulita itu, seorang laki-laki diseret dengan kasar menuju tengah lapangan. Tangannya terikat. Lalu, seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajah bengis, menyiramkan bensin ke sekujur tubuhnya. Sejurus kemudian, ia melemparkan obor yang menyala itu ke tubuh lelaki yang terkulai lemas di tengah lapangan; seluruh tubuhnya terbakar diiringi lengkingan panjang yang menyayat. Dengan angkuhnya, lelaki berwajah bengis itu berteriak sangat keras, ”Ini adalah peringatan bagi mereka yang mendatangi perserikatan.” Lelaki yang tubuhnya terbakar di tengah lapangan itu, adalah seorang petani karet yang ketahuan mengorganisasi dirinya dalam sebuah serikat petani; bagi mandor dan para tengkulak, upaya itu merupakan ancaman. Peristwa itu, merupakan pesan para tengkulak,Read More →

Reading Time: 5 minutes “Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →