“Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →

Pak M. Hanif Dhakiri yang terhormat, Membuka akun FB Kemenaker terkejut saya dengan slogan MAYDAY IS A FUN DAY. Bukan tidak sepakat dengan kegiatan kegiatan yang digagas pihak kementrian dalam merayakan Mayday. Lomba masak, lomba senam dan lain-lain bukan hal negatif untuk dilakukan. Tetapi bukan untuk merayakan Mayday. Pak M. Hanif Dhakiri yang terhormat, Mayday Is a Fun Day adalah kata-kata yang menyakiti kaum buruh. Bapak tentu paham sejarah may day, dan bapak tentu tahu bahwa delapan jam kerja yang hari ini dinikmati oleh kaum buruh bukan hadiah dari pengusaha ataupun penguasa. Delapan jam kerja yang hari ini dinikmati adalah hasil perjuangan dengan mengorbankan darahRead More →

Waktu belum menunjukan pukul 12.00 di seputaran Bundaran HI. Tetapi matahari seakan berada di ubun-ubun. Aku bersama lebih dari dua ratus orang anggota GSBI Tangerang. Kami berjalan di antara kerumunan orang berseragam organisasinya; ada yang berwarna hitam, merah, dan lain-lain. Dari tulisan di seragamnya aku tahu dari organisasi mana mereka berasal. Ada dari KASBI, FSPMI, PPMI, dan lain-lain. Agak sulit mencari titik kumpul massa GSBI. GSBI singkatan dari Gabungan Serikat Buruh Independen pada saat itu, adalah afiliasi dari organisasi yang kubentuk di pabrik. Panasnya hari ini bukan hanya karena sengatan matahari tetapi karena banyaknya orang-orang yang berkumpul, seperti semut. Kelak aku paham kalau orang-orang ituRead More →

Minggu, 31 Desember 2017 adalah hari terakhir yang dilewati di penghujung 2017. Aku ibu rumah tangga yang aktif di organisasi buruh. Aku adalah satu dari 1300 buruh pembuat sepatu merek Adidas di PT Panarub Dwikarya Tangerang Banten, yang dipecat ilegal pada 2012. Sejak pemecatan kejam itulah aku mulai terlibat dalam kegiatan organisasi; terlibat rapat, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Di hari Minggu ini aku bangun pagi, seperti biasa. Lalu melakukan aktivitas; menyiapkan makan dan bersih-bersih di rumah. Setelah itu ada jadwal yang sudah diagendakan sebelumnya; pertemuan dengan salah satu pimpinan yang sudah tidak aktif lagi di organisasi. Namun sebelumnya harus briefing dulu dengan kawan-kawan lain diRead More →

Suasana di ruang rapat masih sedikit ramai. Pak Fredi, Ketua Serikat, berniat membacakan poin-poin keputusan rapat. Dengan suara sedikit berat berwibawa, dia membaca beberapa keputusan: 1. Sumber keuangan yang utama adalah iuran dari anggota. 2. Pengurus tidak boleh menerima pemberian dari pihak lain semisal HRD atau Apindo atau pengacara perusahaan. 3. Pengurus harus menjaga nama baik organisasi dengan tidak korupsi, memakai uang iuran untuk urusan pribadi atau meminjam uang kepada anggota. Sesudah keputusan dibacakan, Pak Fredi bertanya,” Baiklah, sebelum rapat kita tutup apakah ada pertanyaan atau tambahan?” Dari sudut meja, Komar mengacungkan tangan meminta izin bicara. Setelah dipersilakan, dia berkata. “Bulan ini pengeluaran keluarga sayaRead More →