Minggu-minggu terakhir ini, berbagai kelompok dan serikat buruh gencar menyelenggarakan rapat-rapat persiapan menyambut International Women’s Day (IWD) 2018. Sepanjang “Berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti,” dan sepanjang ada kehendak kuat untuk mendorong perubahan, rapat persiapan aksi semacam ini akan terus dilakukan. Seperti yang sudah-sudah, kalau rapat berlangsung terlalu lama, pesertanya bukan cuma kelelahan. Juga gelisah dan kelabakan mencari sambungan listrik, karena baterai handphone mulai habis. Pemandangan semacam ini makin sering kita saksikan, karena kebanyakan orang sekarang punya handphone, bahkan lebih dari satu. Saya akan menyingkir sejenak dari pembicaraan tentang IWD. Saya cerita sedikit tentang baterai. Orang sering menyebutnya dengan batu baterai. Benda kecilRead More →

“Demokrasi politik saja, belum menyelamatkan rakyat. Bahkan di negeri-negeri seperti Inggris, Nederland, Perancis, Amerika, demokrasi telah dijalankan, kapitalisme merajalela dan kaum marhaen papa sengsara!” Bung Karno dalam Fikiran Ra’jat 1933. Bung Karno pernah menyinggung demokrasi ekonomi dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Menurutnya, demokrasi di Indonesia dijalankan bukan hanya bicara tentang demokrasi parlemen atau demokrasi politik yang mengacu ke Barat. Bung Karno memandang bahwa dari demokrasi borjuis ala Barat seperti itu, kaum proletar tetap saja tertindas. Sekalipun buruh bisa masuk ke parlemen, bahkan bisa menjatuhkan menteri, ia tetap saja tertindas di pabrik. Maka demokrasi di Indonesia harus juga digerakan melalui demokrasi ekonomi. Kepentingan politik diRead More →

Khamid Istakhori Panggung di Convention Hall Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta itu tampak terlalu luas, jika hanya diisi oleh tiga lelaki berperawakan kecil. Di atas pangggung seluas 8 x 6 meter itu, suara-suara mereka menggemakan seisi gedung. Mereka adalah Nyonyor yang sepanjang hidupnya Numpang Tenar. Sampai tulisan ini dibuat, ia tak bersedia menyebut nama aslinya. Hanya mau disebut Nyonyor Numpang Tenar, sebagaimana ditulis di profil facebook-nya. Nyonyor berambut gimbal, seperti pemusik legendaris Bob Marley. Ia memang penyuka musik Reggae. Ada pula Ridlo Sorak, bukan pula nama sesuai kartu tanda penduduk. Orang ini pandai bermain musik balada. Ia hampir menghabiskan hari-harinya di metro miniRead More →

April Perlindungan Karena ketidakadilan agraria, ribuan perempuan buruh migran dikirim ke luar negeri. Akibat kehilangan tanah, perempuan buruh dipancung di Arab Saudi. Karena ketimpangan penguasaan tanah, di pabrik-pabrik buruh perempuan diupah murah. Karena tiada lahan, perempuan perkotaan sulit cari air bersih, sulit cari penghidupan. Karena laut ditimbun, perempuan nelayan tak dapat ikan. Karena kesehatan mahal, reproduksi perempuan terancam. Jika perempuan belum bangkit melawan, bertarung dalam dinamika gerakan sosial dan politik, untuk merebut kekuasaan, merebut ruang, merebut sumber-sumber agraria, maka perempuan akan selalu marjinal. Rebutlah sumber-sumber agraria Kelola dengan batin perempuan, dengan cara perempuan dengan konsep perempuan dengan penguasaan perempuan Karena, penguasan sumber agraria oleh perempuanRead More →

Gafur Gavara[1] Suatu petang selepas Magrib di sebuah warung jamu di pinggiran ibu kota. Di luar sana suara hujan rintik, ditimpali parau teriakan kenek memanggil-manggil penumpang dan deru angkot yang ngetem dan lalu-lalang. Kami duduk melamun menghalau lelah, disertai beberapa gelas kecil bening jamu kuat, kawan sejati bagi kami untuk berlomba-lomba mengais rezeki. “Bray, maneh udah tahu kabar baru ?“ sapa si Ujang mengagetkanku. “Kabar apa?“ “Perusaahan kita mau di akusisi sama bule jepang.“ “Akuisisi apa?“ “Itu maksudnya sahamnya diambil.“ “Kata siapa Lae? Jangan aneh-aneh! Awak masih capeknya pun, baru kelar urusan kerja, kau pulak datang tak karuan,“ David menimpali. “Aku teh denger kabar teuRead More →