Thursday Aug 11, 2022

Puisi-Puisi Rara Sahasika

Fatimah

Fatimah,
Gadis desa merindu kota,
Meninggalkan sawah, sapi, dan ternak ayam.

Fatimah sulung memikul harap,
Bagi 3 adik yang sekolah dasar,
Di pundaknyalah,
Orangtua bersimpuh, 
Agar hidup terus merangkak.

Di kota,
Fatimah menyusuri pabrik demi pabrik,
Berbekal amplop cokelat lamaran kerja.
Namun Fatimah belum beruntung,
Satpam di pabrik-pabrik itu bilang,
Tidak ada lowongan pekerjaan,
Yang ada adalah PHK karyawan.

Fatimah tak patah arang,
Kakinya terus melangkah,
Menyusuri ruko hingga perumahan,
Menawarkan tenaga untuk bisa dijual,
Fatimah apes,
Satpam di ruko itu bilang,
Tidur sama aku dulu,
Baru ku kasih pekerjaan.

Fatimah berlari terseok,
Tubuhnya lunglai,
Tersungkur di trotoar,
Ia berteriak,
Kota kejam.

Jakarta, 14 Juni 2022

(Rara Sahasika)

***

Bukan Kekasih

Bukan kekasih tapi selalu di pikiran;

Kabar darinya menjadi penantian;
Kadang 1 bulan, 3 bulan, bahkan harian;
Hati ini penuh harap untuk ada keberlangsungan;
ada kepastian.

Keberadaannya menjadi kabar buruk,
Keberlanjutan hubungan menjadi impian;
Ia tidak pandai memberi kemewahan, apalagi kenyamanan.

Ia selalu menjadi desas desus;
Pembicaraannya tentangnya tak pernah usai;
Tidak mengenal daluwarsa;
Ia adalah Fleksibilitas Tenaga Kerja.

Jakarta, 12 Juni 2022

(Rara Sahasika)

Back to Top