Sumber: SBGT-GSBI PT Panarub Dwikarya

 

Tanggal 04 November 2016 adalah hari yang akan selalu diingat oleh rakyat Indonesia. Pada hari itu, puluhan ribu massa umat Islam dari segala penjuru datang ke Monas menuntut Gubernur Jakarta Basuki Purnama alias Ahok dipenjara karena kasusnya yang dianggap melecehkan agama.

Di hari yang sama pula aku selalu mengingat kejadian yang aku rasakan. Bersama puluhan temanku, buruh perempuan PT Panarub Dwikarya di Tangerang, untuk ratusan kalinya kami kembali melakukan aksi unjuk rasa. Tapi berbeda dengan aksi-aksi yang biasa kami lakukan, hari itu kami berencana melakukan aksi di waktu malam. Melakukan doa bersama lintas agama dengan menyalakan lilin.

Aksi kami adalah untuk menuntut pemilik Panarub dan pemilik brand Adidas dan Mizuno agar membayar kompensasi. Serta menuntut pemerintah dalam hal ini Kemenaker agar menjalankan rekomendasi ILO.

***

Sekitar pukul 9 pagi, aku bersama beberapa korwil[1] menyiapkan perlengkapan aksi dari mulai poster, mencari pemuka agama untuk memimpin doa, mencari tatakan lilin dan pernak pernik lainnya yang diperlukan. “Jam 7 malam kita sudah kumpul lagi ya, biar tidak terlalu malam selesainya “ teriak Ketua[2] sebelum semuanya siap.

Setelah selesai menyiapkan perlengkapan, pukul 5 sore aku pulang ke rumah untuk mandi dan menyiapkan makan malam buat suami dan anak-anak. Sekitar jam setengah 7 malam aku dan teman-teman lain sudah kembali berkumpul di sekre[3].

Setelah semuanya kumpul, kami berangkat menuju PT Panarub Dwikarya. Aksi doa bersama akan di lakukan di depan pabrik. Aku berangkat bersama anakku yang meminta ikut. Beberapa orang menggunakan angkot dan sebagian pergi menggunakan menggunakan motor. Atik dan Ratna naik mobil bersama perlangkapan aksi.

Hujan turun deras di tengah perjalanan. Karena sudah pukul 8 malam dan kulihat kawan-kawanku terus jalan, maka aku menolak berteduh. Hujan makin bertambah deras. Aku sudah tidak melihat motor yang dinaiki kawanku, mba Yuli dan ketua. Karena jalanan banjir, mau tidak mau aku berteduh di pekuburan, sekitar 1 kilometer sebelum lokasi.

Aku mencoba menghubungi kawan-kawan korwil yang lain serta ketua tetapi tidak ada satupun yang membalas pesan dan telponku. Sekitar setengah jam, ada pesan masuk dari Saridah, “Mak Is, aksi dibatalkan. Aku juga pulang lagi nih nganterin pak ustadnya.”

“Aksinya dibatalkan nak.  Kita pulang lewat mana ya biar ga banjir?”, tanyaku kepada anaku, Singgih. “Yah mamah gimana kali, aku pengen ikutan aksi malah batal” ujar Singgih.

Aku menghubungi anggotaku yang sudah sejak tadi pada berteduh di kawasan Mitra 10 dan mereka menyampaikan bahwa anak-anaknya kedinginan. Mereka juga memutuskan pulang.

Pukul 11 malam aku baru tiba di rumah karena jalanan banjir. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri melihat-lihat Facebook. Ada postingan kawan-kawan korwil yang ternyata mengadakan aksi lilin ditengah hujan. Aku terkejut! Karena dari pesan yang kuterima selagi hujan, aksi dibatalkan. Kenapa bisa begini?

Aku menangis karena kecewa. Berhari-hari aku tidak mau datang ke sekre. Aku kecewa karena ini adalah aksi yang penting, aksi yang tidak biasa. Aku ingat ucapan ketua ketika memutuskan untuk mengadakan aksi lilin ini, “Kita harus bikin sesuatu yang lain, aksi kita sebelumnya biasa-biasa saja. Sekali-sekalilah kita malam mingguan depan Panarub.”

“Tapi itu kan malam teh, susah kayaknya. Rumah anggota kan jauh-jauh”, sanggah Kesih korwil Jati menyampaikan keberatannya. “Aku sepakat, kita harus jadikan aksi lilin ini, pasti seru”, ujarku dengan semangat memprovokasi kawan-kawan korwil yang lain.

***

Paska 1300 buruh Panarub Dwikarya ter-PHK, untuk memudahkan koordinasi serikat kami membagi anggota berdasarkan wilayah atau tempat tinggal. Satu wilayah bisa terdiri dari beberapa grup dan satu grup berjumlah 7-10 orang. Satu wilayah dipimpin oleh satu orang koordinator.

Aksi lilin ini telah diputuskan pada rapat korwil yang rutin diadakan seminggu sekali. Korwil nanti berkoordinasi dengan anggotanya untuk membahas berapa orang yang akan terlibat dan bagaimana teknis keberangkatannya.

Ternyata yang kubayangkan bahwa aksi yang akan berkesan buatku ini, tidak sesuai kenyataan. Aku tidak bisa menyalahkan derasnya hujan sehingga membuat aku dan anakku memilih berteduh dan terpisah dari kawan-kawan yang lain.

Tapi aku mengingatnya dengan hambar, “beberapa saat menunggu hujan tak kunjung reda, dingin, mengigil, lapar, tak tahu apa yg harus di lakukan, telepon ke sana ke mari tidak ada yang angkat,. Teman korwil, korlap bahkan ketua tidak mengangkat telpon, bahkan tidak ada yang balas sms, hujan masih tak kunjung reda.”

Aku kesal dan marah tengah malam. Bagaimana tidak, aku menerobos hujan dan banjir bersama anakku tapi mendapati kabar yang tidak jelas: aksi dikatakan batal tapi kok jadi. Perasaanku campur aduk. Sepanjang malam aku menangis. Tapi aku tak tahu menangis untuk apa? Mengapa aku menangis? Bahkan hingga hari Senin, ketika masuk kerja, sepanjang jalan airmataku tak berhenti mengalir. Hatiku sangat sakit sekali, aku merasa tidak di anggap, disepelekan, tidak dihargai, dicuekin.

Aku malu sama anggotaku. Apalagi ketika aku tahu salah satu anggotaku yang jauh tinggalnya, juga datang bersama anaknya yang berumur 4 tahun dan gagal ikut aksi.

Saat itu aku berpikir lebih baik mundur saja dari serikat. “Tiada guna, sia-sia, capek”, kataku dalam hati. Ya berhenti. Kata itu juga yang bisa menghentikan air mataku. Berhari-hari aku sengaja tidak datang ke sekre. Aku sengaja ngambek. Tapi banyak teman yang menghibur dan meminta aku aktif kembali .

Hampir dua minggu aku tidak datang ke sekre. Suatu sore, datanglah mba Atik (salah satu pimpinan harian). Ia mengajakku bercerita. Setelah aku sampaikan kekesalanku, mba Atik menjelaskan bahwa malam itu memang aksinya akan dibatalkan, tetapi karena Dewan Pimpinan Pusat serikatku meminta untuk dilanjutkan, maka aksi dilaksanakan ditengah hujan.

“Mak Is, semua HP kawan-kawan disimpan di tas karena hujannya besar sekali. HP ketua aktif tapi dia tidak mau menerima panggilan masuk karena intel-intel terus menelpon menanyakan soal aksi ini. Banyak nomor baru menelpon tanpa nama”, ujar Mba Atik meredakan kekesalanku.

Dari situ aku ingat kalau aku menelpon dan mengirim sms menggunakan nomor HP anakku. Tentu teman-teman tidak ada yang menyimpan nomor anakku.

“Kalau Mak Is masih belum mau aktif di serikat, tidak apa-apa. Biar kami yang handle wilayah yang jadi tanggung jawab Mak Is. Kalau merasa sudah tidak marah, harapan kami Mak Is aktif lagi. Sayang dengan perjuangan kita yang sudah bertahun-tahun”, Mba Atik meneruskan.

***

Hampir dua minggu aku tidak datang ke sekre. Selama di rumah, aku berpikir dan koreksi diri. Aku sadar jika mengurus banyak kepala di organisasi itu tidak mudah. Perlu kesabaran dan kekuatan.

Aku sudah tidak marah lagi tapi kalau ingat hari itu aku selalu menyesal. Sementara jutaan orang datang ke Monas dari berbagai daerah karena memperjuankan agamanya yang katanya dilecehkan Ahok, aku yang sudah berjuang enam tahun demi perut anak-anakku harus kehilangan moment penting karena miskomunikasi. Hiks!

Terimakasih untuk kawan-kawan di serikat, keluargaku yang telah mendukungku, aku yakin di hatiku, “setiap perjuangan pasti ada keberhasilan!”

 

Baca juga:   Mafia Lamaran Kerja dan Mitos Efisiensi Produksi: Membongkar Kasus PHK Massal Buruh di PT Nikomas

Catatan

[1]  Korwil adalah orang yang mengkoordinir/memimpin anggota disatu wilayah.

[2]  Ketua adalah posisi tertinggi dalam organisasi yang tugasnya mengkoordinir semua kegiatan diorganisasi. Ketua diplih oleh anggota tiga tahun sekali dalam rapat anggota.

[3]  Sekre/sekretariat adalah tempat dijalankan kegiatan organisasi seperti rapat, melakukan pekerjaan administrasi, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *