MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Mengenang Munir, Membumikan Keberanian


Pada malam yang gulita itu, seorang laki-laki diseret dengan kasar menuju tengah lapangan. Tangannya terikat. Lalu, seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajah bengis, menyiramkan bensin ke sekujur tubuhnya. Sejurus kemudian, ia melemparkan obor yang menyala itu ke tubuh lelaki yang terkulai lemas di tengah lapangan; seluruh tubuhnya terbakar diiringi lengkingan panjang yang menyayat. Dengan angkuhnya, lelaki berwajah bengis itu berteriak sangat keras, ”Ini adalah peringatan bagi mereka yang mendatangi perserikatan.” Lelaki yang tubuhnya terbakar di tengah lapangan itu, adalah seorang petani karet yang ketahuan mengorganisasi dirinya dalam sebuah serikat petani; bagi mandor dan para tengkulak, upaya itu merupakan ancaman. Peristwa itu, merupakan pesan para tengkulak, siapa pun yang mencoba melawan, hidupnya akan berakhir dengan cara yang sama.

Sepenggal adegan itu merupakan adegan permulaan dalam film berjudul The Burning Season, sebuah kisah epik tentang lelaki pemberani bernama Chico Mendez. Chico adalah pemimpin serikat petani di Hutan Amazon, Brasil, yang berjuang melawan berbagai upaya penghancuran hutan yang dilakukan korporasi, atas nama investasi, dengan dalih pembangunan, dan tentu saja tipu-tipu disertai teror. Ketika peristiwa pembakaran yang mencekam itu terjadi, Chico kecil yang masih berusia lima tahun, berada di antara kerumunan orang-orang. Merekam kengerian yang ia kenang sepanjang hidupnya.

Kematian Munir, Sebuah Teror yang Nyata

Membandingkan tokoh Chico Mendez dalam film The Burning Season, saya seolah menemukan kemiripan dengan Munir. Bukan saja secara fisik –berambut ikal, berkumis, bertubuh kecil, sorot mata yang tajam–, tetapi saya juga menemukan kesamaan nilai-nilai penting dalam keduanya.

Pertama, menjadikan organisasi sebagai alat perjuangan. Chico hadir memimpin para petani Hutan Amazon mengumpulkan keberanian untuk mengatasi teror. Melalui Serikat Petani, mereka menguatkan diri dengan organisasi, melawan tanpa kekerasan dan menepis teror dengan keberanian luar biasa. Dalam sebuah adegan, Chico menyemangati para petani untuk terus berjuang, bukan saja dengan organisasi sebagai alat perjuangan, tapi juga dengan memberdayakan seluruh anggotanya dengan pendidikan. “Sepuluh orang yang terdidik adalah awal perubahan, seratus orang tanpa pendidikan adalah gerombolan,” ujarnya.

Munir melakukan hal yang sama. Kasus Kematian Marsinah yang diadvokasinya merupakan catatan penting atas semua itu. Pengurus Serikat Buruh Kerakyatan (SBK) Jawa Timur Bianto –yang terlibat dalam pengorganisasian buruh masa Orde Baru dan advokasi akan kematian Marsinah pada 1993– menjelaskan bahwa serikat buruh merupakan kunci utama dalam advokasi kasus Marsinah, baik sebelum pemogokan, ketika pemogokan, hingga kematian Marsinah yang penuh misteri itu. “Ada banyak lembaga, aktivis, dan orang-orang yang terlibat dalam Komite Solidaritas untuk Marsinah (KSUM), tapi serikat buruh merupakan pilar utamanya,” kenang Bianto. Bianto dan Munir bertemu dalam aktivitas KSUM ketika mengadvokasi dan melakukan investigasi kasus pembunuhan Marsinah oleh aparat militer.