MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Jam Kerja Panjang, Jamu Pegal Linu dan Meninggalkan Keluarga


Le kok nemen kapitalis iki, le ngerebut uripku sampe ngombe jamu ae dinggo nambah keuntungane ndekne (Kok begitu keterlaluannya kapitalis merebut hidupku. Sampai-sampai minum jamu pun digunakannya untuk menambah keuntungan)”. (Atik Sunaryati, dalam Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota)1

Pemandangan yang umum. Hampir di setiap pabrik terutama sektor garmen, tekstil dan sepatu di Tangerang, setiap pagi dan sore buruh-buruh perempuan mengerumuni Mbak Jamu yang biasa berjualan dengan menggunakan sepeda. Atik Sunaryati dalam buku Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota dengan lugas menceritakan bahwa meminum jamu setiap pagi adalah untuk menambah stamina agar fit bekerja dan bisa bekerja sesuai target yang diminta pemilik pabrik.

Jamu seakan menjadi doping. Diminum pagi hari saat masuk kerja atau saat pulang kerja. Tujuanya tidak lain agar badan tidak pegal dan linu setelah seharian diperas tenaga untuk menghasilkan barang milik pabrik. Kebiasaan minum jamu sebetulnya adalah gambaran dari loyalitas buruh terhadap pabrik: buruh berupaya sekuat tenaga menjaga tubuhnya sugar-bugar dan melupakan kesehatannya.

Selain minum jamu, ada pula mengonsumsi minuman suplemen seperti Extra Joss dan Kuku Bima. Sehari bisa dua atau tiga bungkus. Para buruh yakin, jika jenis-jenis minuman tersebut dapat menghilangkan kantuk dan lelah. Di saat jam istirahat para buruh lainnya biasanya akan bergantian memijat, selonjoran dan pulas tertidur dengan alas kardus.

Coba tengok dalam tas buruh perempuan. Ada ‘senjata’ andalan: balsam atau minyak kayu putih. Produk terbaru adalah Fresh Care. Memasuki hari Jumat dan Senin jangan heran jika melihat tempelan koyo atau bekas kerokan di leher atau bagian bahu perempuan.