MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Habis Pandemi, Pabriknya Pergi: Kisah Sembilan Pabrik yang Mengaku Rugi Saat Pandemi


Sejak pandemi Covid 19 melanda Indonesia, Maret 2020, berbagai laman media online besar maupun kecil memuat berita tentang pabrik-pabrik yang menghentikan kegiatan produksinya. Di provinsi Banten, 74 pabrik diberitakan tutup karena terimbas pandemi (Detik online, 11/10/2020). Di Jawa Tengah 40 perusahaan stop produksi sementara (Tempo Online, 04/04.2020). Sementara di Jawa Timur 80 perusahaan tutup karena alasan yang sama (VOI Online, 13/08/2021).

Ada perusahaan yang menghentikan operasi pabrik untuk sementara, ada yang tutup permanen. Sementara pabriknya tutup di tengah goncangan keuangan semasa pandemi, perusahaan menempuh berbagai cara untuk memangkas biaya operasional. Caranya antara lain dengan meliburkan buruh, melakukan pemotongan upah atau malah mangkir bayar upah. Tidak sedikit pula yang melakukan pengurangan jumlah buruh melalui PHK massal.

Pabrik yang tutup sementara kemudian beroperasi kembali di masa pandemi, dengan memberlakukan beberapa ketentuan baru. Antara lain dengan mengubah dan mengurangi waktu kerja. Buruh misalnya diminta bekerja bergilir, satu minggu bekerja di minggu ini dan libur di minggu berikutnya. Sambil menerapkan ketentuan baru ini, perusahaan tak lupa menekankan konsep no work no pay (tidak kerja tidak terima upah). Maksudnya, karena buruh tidak bekerja satu bulan penuh, maka juga tidak menerima penuh upahnya. Upaya penghematan juga dilakukan dengan menurunkan standar kerja, mencopot beberapa fasilitas, yang sebelumnya sudah disepakati dan tercantum dalam Perjanjian Kerja Bersama. Seperti Uang THR (tunjangan hari raya) yang tidak dibayarkan atau dicicil oleh perusahaan.

# Covid # garmen # Nike