
Membaca Perlawanan, Menulis Harapan
“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” dan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.
(Pramoedya Ananta Toer)
Sejak di bangku sekolah, aku sudah akrab dengan pena dan kertas. Setiap kata yang kutulis adalah pelarian dari hiruk pikuk realita. Cita-cita menjadi penulis tumbuh subur dalam imajinasiku. Namun, mimpi itu harus layu sebelum berkembang. Keterbatasan akses dan ketiadaan wadah untuk menerbitkan membuatku menyerah. Perlahan, aku memendam hasrat itu dalam-dalam, menimbunnya di bawah tumpukan rutinitas pekerjaan yang tak kenal lelah sebagai seorang awak kabin. Belasan tahun berlalu, dan aku hampir lupa rasanya menuangkan isi kepala ke dalam tulisan.
Hidupku berputar pada poros yang sama: terbang, pulang, istirahat. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk bergabung dengan serikat di tempatku bekerja dan menjadi pengurus federasi. Di sanalah, melalui jaringan federasi, yang tergabung dalam aliansi lokal Persatuan Perjuangan Rakyat Indonesia (P2RI) hasrat menuliskan kembali membara.
Di P2RI kami rutin mengadakan pendidikan, salah satunya menulis. Kelas menulis seperti membuka kembali pintu yang sudah lama terkunci. Apalagi yang menjadi nara sumber salah satu NGO yang fokus di isu perburuhan, dikenal dengan tulisan-tulisan tentang perburuhan, menerbitkan buku mengenai perlawanan yang juga ditulis oleh buruh itu sendiri. Kelas menulis dimulai bulan November 2024 dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Untuk jadwal, tempat dan waktu disepakati bersama.
Pengelolaan kelas yang santai, jauh dari teori-teori menulis yang bikin ngeper buruh yang berniat menulis. “Tulisan yang baik adalah tulisan yang dibaca orang”, kata kunci yang disampaikan narasumber membuat semangat menulis. Bagi buruh yang rata-rata tidak mengecap bangku kuliah, menulis seakan-akan ranahnya orang kuliahan. Mengingat banyak sekali tulisan dari kaum terpelajar yang ditulis dengan bahasa-bahasa intelek yang tidak dipahami oleh buruh.
Aku yang awalnya ragu apakah aku masih bisa menulis? Apakah tulisanku akan cukup baik? Walaupun begitu aku tidak pernah absen, karena setiap sesi adalah kesempatan emas untuk kembali belajar. Dengan memahami bagaimana cara menulis yang baik, aku menemukan kembali semangat yang dulu pernah hilang.
Total ada tujuh kali pertemuan, di pertemuan pertama peserta rata-rata menyampaikan kesulitan menulis. Apa itu bagaimana mengawali menulis, apa yang mau ditulis dan bagaimana cara merangkai kata-kata serta menyambungkan satu kalimat ke kalimat lain. Dari peserta yang hadir hampir semua menyampaikan, dikepala banyak yang mau ditulis, tapi bingung memulainya.
Keraguanku akan kemampuan menulis yang ada dipikiranku akhirnya hilang dan ini menjadi titik balik ketika di pertemuan pertama, nara sumber berkata, dimana kata-katanya akan aku ingat “Tulisan yang baik itu dengan cara ditulis. Masalah salah, kurang, atau jelek, itu nanti urusan editor.”
Kata-kata itu sederhana, tapi langsung masuk ke dalam hatiku. Motivasi yang kupendam belasan tahun lamanya meledak kembali. Aku menyadari, selama ini aku terlalu sibuk memikirkan kesempurnaan. Aku terlalu takut untuk memulai karena khawatir tidak akan sebaik yang kubayangkan. Sejak saat itu, aku membuang semua keraguan dan kembali menulis.
Aku menulis tentang apa saja, mulai dari hal kecil hingga perjuangan serikat. Kebetulan ketika dimulai kelas menulis aku sedang dalam proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), akibat aku berpartai dan dicalonkan menjadi caleg. Aku diperlakukan tidak adil di perusahaan tempatku bekerja, hak demokrasi yang melekat dalam diriku dirampas dengan dalih perusahaan adalah anak BUMN. Aku menulis, setiap kata yang kutulis adalah bentuk perlawanan, sebuah pernyataan bahwa suara kami tidak bisa dibungkam.
Sampai hari ini 5 tulisan yang sudah aku tulis, semua tentang perjalananku digerakan. Tulisan pertamaku diterbitkan di Sedane berjudul “Jangan putus asa sayang. Tuntaskan!. Ini tentang aku, kamu dan kita yang tergilas sistem”. Tulisanku ini tentang perjalananku ketika dipecat, aku yang sempat frustasi tetapi dukungan istri membuatku tegar dan mampu melewati semuanya.
Aku adalah Buruh Bandara, bagi banyak orang bandara adalah simbol kemegahan dan kemakmuran. Di Bandara bisa melihat pesawat-pesawat raksasa yang mewah, toko-toko megah, dan keramaian yang seolah tak pernah tidur. Orang-orang mungkin berpikir, bekerja di tempat sepenting ini pasti menjamin kesejahteraan dan penghasilan yang besar. Namun, kenyataan yang kami alami sebagai pekerja bandara seringkali berbanding terbalik.
Di balik senyum ramah petugas, pramugari dan pramugara yang selalu terlihat rapi dan wangi, di balik kesibukan yang tak henti, ada cerita tentang jam kerja yang melelahkan, gaji yang pas-pasan, dan ketidakpastian status kerja. Banyak dari kami, para pekerja bandara, masih berstatus harian lepas, tanpa jaminan masa depan. Kami bekerja dengan penuh dedikasi, memastikan operasional berjalan lancar, namun hak-hak dasar kami seringkali terabaikan.
Sebagai objek vital nasional, bandara memiliki aturan yang sangat ketat. Kami dibatasi, tidak bisa sembarangan melakukan unjuk rasa di dalam area bandara. Satu-satunya bentuk protes yang bisa kami lakukan adalah mogok kerja, dan itu pun sering kali dihadapkan dengan kekuatan militer. Suara kami dibungkam oleh regulasi dan ancaman. Kami merasa terperangkap dalam jeruji besi yang tak terlihat.
Inilah mengapa aku percaya, menulis adalah wadah perlawanan alternatif bagi buruh bandara. Jika suara kami tidak bisa lantang di jalan, maka kami akan melantangkannya melalui tulisan. Setiap kata yang kami tulis adalah sebuah aksi mogok tak terlihat, yang bisa menjangkau lebih banyak orang, di mana pun mereka berada.
Aku pernah membayangkan, betapa dahsyatnya jika semua pekerja bandara bisa menuliskan cerita dan kondisi yang sebenarnya. Ada awak kabin yang menulis tentang jam terbang yang tidak manusiawi. Ada petugas kargo yang menulis tentang beban kerja yang melampaui batas. Ada petugas kebersihan yang menulis tentang minimnya upah. Ada petugas ground handling yang menulis tentang bahaya kerja yang mereka hadapi setiap hari.
Tulisan-tulisan ini akan menjadi realitas yang membuka mata banyak orang, yang menunjukkan bahwa bandara bukan hanya tentang kemewahan, tetapi juga tentang perjuangan dan penderitaan. Tulisan-tulisan ini akan menjadi arsip perlawanan yang tak bisa dihancurkan. Mereka akan menjadi suara-suara yang bergema di ruang-ruang digital, melampaui batas fisik bandara.
Melalui tulisan, kami bisa melawan narasi yang salah. Kami bisa menunjukkan bahwa di balik citra gemerlap, ada ketidakadilan yang harus dilawan. Kami bisa membuktikan bahwa buruh bandara adalah pilar penting, bukan sekadar roda gigi yang bisa diganti kapan saja. Kami memiliki martabat, dan kami pantas diperlakukan dengan adil.
Aku berharap, dengan tulisanku, akan ada lebih banyak pekerja bandara yang terinspirasi untuk mengambil pena dan menuliskan kisah mereka. Jangan takut, jangan ragu. Seperti kata nara sumber yang terpenting adalah menulis. Masalah teknik dan penyuntingan bisa diperbaiki kemudian. Yang penting adalah keberanian untuk memulai, keberanian untuk menuangkan isi hati.
Mari kita jadikan tulisan sebagai senjata perlawanan kita. Biarkan kata-kata kita terbang, melampaui batas landasan pacu, mencapai hati setiap orang yang membacanya. Biarkan dunia tahu, bahwa di balik gemerlap lampu bandara, ada suara-suara yang butuh didengar. Dan suara itu adalah suara kita. Buruh Bandara.
