MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Belajar dan Bertindak bersama Organisasi


Namaku Lami, bahasa Jawanya lama. Kata ibuku, aku diberi nama Lami karena lahirannya lama. Kalau kata kakekku arti nama Lami karena lama ditinggal bapaknya.

Aku enam bersaudara, dari satu ibu lain bapak. Aku anak pertama. Ketika umurku tiga bulan, bapakku meninggal. Aku umur satu tahun ibuku dinikahkan oleh kakekku dengan bujang tetangga. Sejak itu aku mulai diasuh nenekku. Untuk bertahan hidup, sejak umur tiga tahun aku sudah ikut nenekku jadi buruh petik kapas di ladang orang. Masih ingat di benakku saat terik matahari aku disuruh berteduh di bawah pohon sukun, saat lapar makan sukun bakar.

Saat aku mulai mengerti, aku mulai membantu nenekku. Aku dan adikku bermain di air kedung[1] sambil petik kangkung liar di sawah, untuk dijual buat sangu sekolah. Itu aku lakukan saat tugas mengambil air di sumur dan menuhin semua tempayan. Jika satu tempayan lewat tak terisi, nenek bisa marah marah.

Waktu sekolah aku memakai tas plastik hitam yang bergambar garuda, sepatuku dari bahan karet yang penuh jahitan depan belakang. Sebelum berangkat sekolah aku jualan kue di pasar. Uang sakuku limapuluh perak yang tu aku dapatkan dari upah bantu-bantu panggang ikan sepulang sekolah. Dan aku nabung seratus perak. Waktu itu biaya Ebtanas dan lulusan SD dua puluh lima ribu, aku nabung dari kelas empat SD sampai kelas enam SD cuma terkumpul sepuluh ribu. Belum lagi perpisahan sekolah, murid-murid diharuskan bawa bucu panggang ayam[2] untuk wali murid. Waktu itu aku menangis, malu tidak bisa membawa ayam untuk acara perpisahan dengan teman dan guru. Karena aku dikasih oleh nenek pisang kematengan yang hampir busuk untuk dibawa ke sekolah, guruku protes kenapa tidak bawa kue yang aku jual di pasar setiap pagi.

Setelah lulus sekolah dasar, hari-hariku aku habiskan jadi buruh tani. Setiap pagi buta aku membawa bontotan[3] nasi jagung lauk sambal, pergi derep[4] kacang di Gunung Tugel. Bersama kawan lainnya,aku senang makan cilom, kacang tanah yang muda, karena rasanya manis. Tidak peduli tanah merah belepotan di mukaku. Kerjanya borongan, cabut sendiri, dipreteli sendiri segambreng[5] atau sekaleng cincau. Dari mandor diupah tujuh ratus perak, paling aku cuma dapat seribu, dari matahari terbit sampai tenggelam. Apa lagi kalau buah kacangnya jarang, kadang dicabut tinggal akarnya saja, dapat upahnya sedikit.

Tidak hanya jadi buruh tani, aku juga kerja jemur ikan karena kampungku tidak jauh dari pesisir. Selang seling aku bekerja, selama ada kesempatan. Apa saja aku kerjakan. Aku juga pernah menata jalan kampungku, ngangkutin batu dari truk lalu dihancukan pake palu. Kadang aku malu jika ketemu temanku yang bersepeda pulang sekolah.

Sepulang kerja dari pasar, aku jadi kuli angkut kumbung[6]. Di kampungku ada lokasi buat batu kumbung untuk tembok bangun rumah. Satu rit (seribu kotak batu kumbung) diupah tiga ribu. Aku sanggup angkat tiga kotak kumbung batu dari bawah lokasi naik ke atas. Kalau diukur satu kotak kumbung sama dengan lima bata.

Suatu waktu itu ada makelar cari pembantu, aku ikut saja dengannya ke daerah dekat kota Tuban, untuk cari pengalaman. Nenekku nangis kelimpungan karena aku tinggal.. Sebulan bekerja aku diupah lima puluh ribu. Aku senang karena tidak pernah melihat uang lima puluh ribu. Majikanku baik tidak galak, rumahnya besar cuma kamarnya dua, buat dia, anaknya. Aku diberi tempat tidur di gudang. Kalo majikanku pergi, aku dikunci dari luar, tidak boleh kemana mana. Waktu nenekku nekad mencari aku, ia datang menemuiku. Senang sekali aku. Aku ambil kesempatan, ikut pulang sama nenek dan kembali ke kampung.

Setelah sampai kampung, aku kembali menjadi buruh tani dan kerja jemur ikan. Lalu ada tawaran dari teman untuk kerja di Jepara sebagai buruh amplas funiture. Sebagai buruh amplas funiture kerjaanya tidak menentu, sistemnya borongan dan sering rebutan barang sesama kawan. Akhirnya aku keluar dan jadi pelayan warung.

Setelah dari Jepara aku dari kembali ke kampung bekerja mengasuh bayi, ketika anaknya sudah bisa jalan, aku bekerja bantu di toko.

***

Tahun 1999 umurku 14 tahun, awal aku ikut bibi ke Jakarta. Bibi dan keluarganya tinggal di Gang Haji Gandun, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Beberapa bulan aku tidak mendapatkan pekerjaan. Aku keliling ke perumahan Bona Indah, dari pintu ke pintu menawarkan jasa jadi pembantu, tapi tidak ada yang terima, mungkin dianggap mencurigakan.

Teman bibiku menawarkan pekerjaan sebagai pembantu di Tangerang. Aku ambil tawaran itu. Di sana aku ngurus dua rumah dua anak sambil membuat kue untuk dijual. Satu bulan aku diupah seratus ribu. Hampir satu tahun aku bekerja disini, akhirnya aku keluar karena pekerjaannya menguras tenaga, setiap malam harus jagain kue di oven jangan sampi gosong. Lalu ada tawaran kerja di Vila Delima sebagai pembantu rumah tangga juga. Tapi aku tidak nyaman dengan ayah dari si nyonya rumah. Setiap nyonya pergi keluar rumah, ayahnya sering memaksa dan menyuruhku memijat bagian pribadinya. Akhirnya aku melarikan diri suatu malam.

Awal aku berkeinginan menjadi buruh pabrik adalah ketika aku menjenguk tetangga kampung yang tinggal di Sandratex. Waktu itu aku melihat banyak buruh-buruh textil pulang sore dan berseragam warna telur asin. Aku berpikir enak sekali kerja di pabrik, bisa pulang sore. Setelah pulang bisa bebas main kemana suka, tidak seperti pembantu yang tidak bebas kemana-mana, harus dikontrol majikan. Dari situlah aku ingin sekali mencoba menjadi buruh pabrik.

Tahun 2002 aku ke Jakarta lagi, ikut bibi dari pihak bapak. Satu bulan bantu bantu bibi di rumah, aku diajak oleh kerabat dari suami bibi untuk kerja di Kawasan Berikat Nusantara Cakung, di PT. Golden Continental. Kerabat dari suami bibi bekerja sebagai personalia di pabrik itu. Jadi ijazahku tidak dikoreksi lagi. Aku langsung masuk kerja dengan status kontrak.

Penulis

Lami