MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Buruh Indonesia dan Tantangan Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi. Disket sebagai nama popular dari cakram flopi atau floppy disk. Tempat menyimpan data dengan kapasitas 1,44 Megabite. Berkembang sejak 1970-an hingga 2000-an. Fungsinya telah digantikan oleh USB flash drive, portable hard disk drive eksternal, cakram optik, kartu memori dan penyimpanan online. Gambar: Dokumentasi LIPS.


Ilustrasi. Disket sebagai nama popular dari cakram flopi atau floppy disk. Tempat menyimpan data dengan kapasitas 1,44 Megabite. Berkembang sejak 1970-an hingga 2000-an. Fungsinya telah digantikan oleh USB flash drive, portable hard disk drive eksternal, cakram optik, kartu memori dan penyimpanan online. Gambar: Dokumentasi LIPS.

Dunia sedang menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai optimisme dan kegamangannya. Tidak mau tertinggal, Indonesia juga mengikuti jejak serupa. Berbagai kebijakan dan program politik diciptakan untuk menyongsong Revolusi Industri 4.0. Muncul pendapat kritis dari berbagai serikat buruh bahwa Revolusi Industri 4.0 justru akan mengancam buruh di Indonesia. Kemudian muncul pertanyaan sesiap apa Indonesia menghadapi Revolusi 4.0.

Istilah Revolusi Industri 4.0 muncul pertama kali dalam World Economic Forum untuk menandakan bahwa dunia telah memasuki fase baru dalam industri, menggantikan Revolusi Industri Ketiga. Dalam sejarahnya Revolusi Industri Pertama dimulai dengan adanya penemuan mesin uap dan mesin manufaktur pada abad 18. Kemudian Revolusi Industri Kedua ditandai dengan adanya penemuan mesin listrik dan produksi massal dan standardisasi industri pada Abad ke-19. Setelah itu pada Abad ke-20 lahirlah Revolusi Industri Ketiga yang ditandai dengan adanya komputer dan teknologi informasi. Revolusi Industri Keempat atau 4.0 sendiri merupakan revolusi industri yang ditandai dengan pekerjaan yang banyak menggunakan internet, robot, dan kecerdasan buatan.

Di era Revolusi Industri 4.0, berbagai jenis pekerjaan dan profesi diprediksi akan hilang dan digantikan dengan robot atau komputer. Pekerjaan yang sangat rentan hilang adalah pekerjaan yang repetitif. Bahkan sudah berkembang kepada pekerjaan yang sudah mengandalkan skill tinggi dan pengetahuan. Pekerjaan yang diprediksi akan hilang seperti pemberi layanan konsumen (costumer service), supir, kasir bank, penerjemah, apoteker, DJ radio, pengarang lagu, dan bahkan pengarang buku. Layanan konsumen saat ini bisa digantikan dengan robot chat yang secara otomatis menjawab pertanyaan konsumen, supir digantikan oleh teknologi kendaraan tanpa supir, kasir bank sudah digantikan mesin otomatis transfer atau menarik uang, penerjemah digantikan alat atau aplikasi yang level akurasinya mendekati 100%, sudah ada perangkat lunak yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat lagu, dan bahkan sudah ada perangkat lunak yang bisa menjawab permasalahan hukum yang lebih akurat dan efisien dari pengacara.

Sementara itu pekerjaan yang terkait dengan skill tinggi, terkait dengan teknologi, dan bukan bersifat repetisi diprediksi akan bertahan. Pekerjaan tersebut seperti pekerjaan dalam industri kreatif, Information Technology, manajer, profesional, layanan kesehatan, pendidikan, dan jasa konstruksi akan bertahan.

Di Indonesia sendiri beberapa industri otomotif sudah mulai melakukan automasi. Industri perbankan bergerak cepat melakukan automasi dan memangkas ribuan buruh. Hanya Bank Mandiri dan BRI yang konsisten menambah jumlah buruh dalam tiga tahun terakhir. Sementara jumlah buruh di Bank BCA pada tahun 2018 menurun 2%, BNI menyusut 1169 orang pada tahun 2018, dan penyusutan terbanyak adalah Bank Danamon yang memiliki buruh sebanyak 44.019 pada 2016 menjadi hanya 32.299 pada 2018 atau berkurang 11.720 orang.1 Tidak heran serikat buruh berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 berdampak pada banyaknya jumlah pengangguran.2

Riset Mckinsey Global Institute memprediksi bahwa sebanyak 800 juta pekerjaan akan hilang digantikan dengan automasi pada tahun 2030. Kemudian sebanyak 30% dari waktu kerja secara global dapat digantikan dengan mesin otomatis pada tahun 2030 tergantung seberapa cepat sistem automasi dijalankan.3 Meskipun demikian jenis pekerjaan baru yang terkait dengan automasi akan muncul. Mckinsey juga memprediksi sebanyak 375 juta pekerja di seluruh dunia (14% jumlah pekerja di dunia) akan membutuhkan transisi ke pekerjaan baru yang terkait dengan skill baru. Jika transisi ke pekerjaan baru berlangsung lambat, maka angka pengangguran dapat meningkat dan pertumbuhan upah akan menurun.4

Mckinsey juga mengulas kembali bagaimana menghadapi kondisi Revolusi Industri Pertama, ternyata situasinya tidak jauh berbeda. Pada tahun 1589, Ratu Inggris Elizabeth I menolak mengabulkan paten cetak stocking yang ditemukan William Lee karena khawatir akan mempengaruhi perajut yang menggunakan tangan. Di awal Abad ke-19, pekerja tekstil di Inggris dan Perancis melakukan protes menolak kehadiran mesin uap. Pembelajarannya adalah inovasi teknologi akan menciptakan banyak pekerjaan baru daripada yang dihancurkan, meningkatkan produktivitas, dan menaikkan kualitas hidup. Namun demikian transisinya tidak selalu mudah. Contohnya selama Revolusi Industri Pertama di Inggris, upah riil stagnan selama 50 tahun.5