MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Buruh di Jerat Rentenir

Ilustrasi: Warga Purwakarta menolak Bank Keliling. Sumber: ayopurwakarta.com


Ilustrasi: Warga Purwakarta menolak Bank Keliling. Sumber: ayopurwakarta.com

Juli 2019, kita dikejutkan dengan berita: seorang buruh perempuan yang bekerja di pabrik garmen di Solo Jawa Tengah dipermalukan perusahaan pinjaman online, Incash. Yi, fotonya disebarkan di media sosial dengan dibubuhi tulisan: rela digilir seharga Rp 1.054.000 dan akan memberikan kepuasaan bagi pengguna jasanya.

Cerita bermula ketika Yi meminjam uang Rp 1 juta dari Incash. Uang yang diterima Yi sebesar Rp 680 ribu. Katanya, dipotong uang administrasi. Jumlah pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam seminggu, menjadi Rp 1.054 ribu. Setelah menerima uang, petugas Incash pun membuat grup Whatsapp yang memasukan Yi sebagai salah satu anggota grup.

Tempo pembayaran pun tiba. Yi tidak mampu bayar. Petugas Incash menagih berulang. Yi pun mengatakan jika dirinya belum bisa membayar utang sebagaimana dijanjikan. Penagih terus menagih, bahkan menagih melalui orang-orang sekitar Yi yaitu melalui nomor-nomor kontak yang terdaftar dalam nomor seluler Yi. Sehari kemudian, beredarlah foto yang mempermalukan Yi.

Yi mengenal fasilitas pinjaman online melalui iklan layanan yang diterimanya melalui pesan singkat (SMS/Short message service). Entah bagaimana mereka bisa mendapatkan nomor tersebut. Iklan tersebut menawarkan pinjaman dengan cara mudah yaitu hanya dengan syarat KTP, foto dan memberikan izin mengakses daftar nomor kontak di telepon selulernya. Karena terdesak kebutuhan, Yi pun mengajukan pinjaman sebagaimana diceritakan di atas.

Bukan hanya Yi. Kita juga membaca korban yang terjerat pinjaman online jumlahnya meningkat. Modusnya sama, yakni memberikan kemudahan meminjam, jumlah pinjaman yang diajukan dipotong uang administrasi, waktu pengembalian yang singkat dengan jumlah bunga harian. Ketika jatuh tempo dan gagal membayar, petugas pinjaman online akan menagih dengan cara meneror ke semua nomor kontak telepon seluler.

Karena merasa malu dan tertekan ditagih terus menerus, ada pula pengutang yang mengakali dengan membayar tapi meminjam ke pinjaman online lain. Akibatnya, utangnya menumpuk menjadi ratusan juta ke berbagai pinjaman online. Bahkan, karena bunga harian yang menumpuk, terdapat kasus peminjam yang bunuh diri.