MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Di Balik Pakaian Trendi dan Enak Dipakai: Pengalaman Mengorganisasikan Pekerja Rumahan

Nama saya Ida Fitriany. Saya tinggal di sebuah desa di Ungaran, Kabupaten Semarang bersama suami dan anak–anak. Saya bekerja sebagai buruh rumahan sejak tahun 2010. Pekerjaan pertama saya adalah memotong benang yang menjuntai atau sisa benang yang ada di pakaian jadi atau disebut “mbatil”.[1]

Waktu itu saya dibayar sangat kecil yaitu Rp 80 rupiah per buah. Saya menerima pekerjaan dalam bentuk paket per ikat. Seikat berisi 10 pakaian.  Dalam sehari, saya bisa menyelesaikan 10 ikat (100 buah pakaian). Artinya, saya mendapatkan Rp8000 per hari. Sedangkan untuk baju kimono saya dibayar Rp150 per buah. Untuk kimono, saya juga menerima pekerjaan per paket. Sepaket berisi 10 ikat yang masing-masing ikat berisi 10 pakaian. Saya dibayar setiap dua minggu sekali. Pekerjaan ini hanya ada pada bulan Desember sampai bulan Mei.

Saya menerima pesanan kerja, mengambil pakaian dan menyerahkan pekerjaan yang selesai kepada seorang perantara yang tinggal dalam jarak beberapa langkah dari rumah saya. Saya juga tahu nama perusahaan tempat saya mendapatkan pekerjaan.

Setelah lama tidak mendapatkan pekerjaan dari perusahaan garmen, pada tahun 2016, saya mengambil pekerjaan membuat tatakan roti tart. Upah saya Rp4500 per lima lusin untuk tatakan ukuran 19 – 29 cm; Rp5500 per lima lusin untuk tatakan berukuran 30 – 40 cm; dan Rp 11.000 per lima lusin untuk tatakan bulat. Upah saya dibayarkan setiap dua minggu sekali. Sampai sekarang saya tidak tahu nama perusahaan dari mana saya mendapatkan pesanan. Saya mendapatkan pekerjaan ini dari seorang perantara.

Mengenal Pekerja Rumahan

Pada suatu hari di tahun 2010. Ada seorang perempuan yang datang ke rumah saya. Ia mau laporan karena baru pindah ke wilayah rumah saya. Kebetulan pada saat itu saya adalah Bu RT. Dia melihat saya sedang mengerjakan mbatil. Dia lalu bertanya tentang beberapa hal. Dia juga mengatakan kepada saya bahwa yang saya kerjakan adalah pekerja rumahan.

Dia mengenalkan diri sebagai Rima. Saya bertanya “Pekerja rumahan itu apa?” Rima bilang barang yang dikerjakan di rumah diambil dari pabrik atau ada yang mengantarkan ke rumah, itu namanya pekerja rumahan. Rima juga bertanya bagaimana dengan upah dan yang lainnya. Saya terangkan kalau saya tidak mendapatkan apa-apa selain upah. Saya juga katakan jumlah upah yang saya terima.