MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Tulang Rusuk (Bagian 3)

Forces of Nature series. Design composed of colorful paint and abstract shapes as a metaphor on the subject of modern art, abstract art, expressionism and spirituality

Manusia berencana tapi Allah yang menentukan. Tadinya kalau aku sudah mulai kerja Apip mau dititipkan di rumah orang tuaku. Jarak rumah orangtua dan mertuaku tidak terlalu jauh.

Waktu itu, akhir cuti melahirkanku adalah 20 Juli. Tapi tanggal 12 Juli 2012 aku mendengar kabar kalau buruh di tempatku bekerja demo. Aku mendengar kabar ini dari Yuli tetanggaku. Di kampungku banyak yang satu pabrik denganku. Walaupun cuti melahirkan aku tidak ketinggalan informasi.

Tanggal 20 Juli 2012 aku berangkat ke pabrik. Tapi semua teman-temanku ikut demo. Akhirnya aku ikut mereka sampai sore.  

Tanggal 21 Juli 2012 aku tetap berangkat. Tentu saja ikut demo lagi. Temanku menyarankan agar aku bergabung bersama ibu-ibu hamil. Biar aman, katanya.

Sekitar pukul 10.00 pagi. Aku dan ibu-ibu hamil serta ribuan buruh lain sedang duduk-duduk menunggu ketua serikat berunding. Aku mendengarkan pidato beberapa orang yang tidak aku kenal. Di kemudian hari aku tahu ternyata sebutan untuk jenis pidato tersebut dinamakan orasi.

Aku dan ibu-ibu hamil lainnya disiapkan tempat di halaman pabrik kaca depan. Sedang asyik mendengarkan orasi tiba-tiba kawan-kawan di barisan depan teriak, “Weiii perih… mata saya perih”. Aku lihat di dalam pabrik, tepatnya di bawah pintu gerbang keluar asap putih. Kami yang awalnya duduk langsung berhamburan. Mataku terasa perih. Sulit untuk dibuka. Tenggorokan kering dan terasa mual.

Aku merasa tidak kuat. Untungnya aku dibawa ke warung oleh laki-laki berseragam organisasi. Aku diberi minum dan mataku dibasuh air. Ternyata mataku semakin terasa perih. Aku tidak tahu situasi di depan pabrik. Saat itu kacau-balau: ada yang berlarian, berteriak, dan saling menyelamatkan diri. Aku pulang. Kepalaku sakit.

“Ipah, kok jam segini sudah pulang? Kamu nggak kerja?” Sapa mertuaku yang sedang duduk di teras rumah.

Nggak Mak. Di pabrik ada demo. Jadi Ipah nggak kerja,” jawabku sambil membuka sepatu

Lha kamu ngapain ikut-ikutan demo-demo segala. Udah kamu kerja aja. Ikut-ikut demo nanti kamu di-PHK. Ingat anak kamu masih kecil. Butuh susu. Jangan ngandelin suami kamu. Tahu berapa penghasilan suamimu?! Kalau kamu nggak kerja bagaimana bisa suamimu bantu cicilan motor si Yani.” Panjang lebar mertuaku memberi nasehat. Membuat kepalaku semakin sakit.

Yani adik bungsu  suamiku baru diterima bekerja di pabrik garmen. Baru sebulan kerja. Dia nyicil motor dan suamiku membantu untuk membayar cicilannya dari hasil dia ngojek. Tentu saja dari pendapatanku. Suamiku jarang memberikan nafkah padaku. Seminggu paling dapat Rp30 atau Rp50 ribu. Paling besar Rp100 ribu. Pendapatan Rp100 ribu bisa dihitung dengan jari tangan.

“Kata ibu kamu ikut demo?” Malam hari sebelum tidur suamiku bertanya.

“Iya! Semuanya ikut,” jawabku ringan

“Udahlah kamu nggak usah ikut-ikutan. Gimana kalau di-PHK? Sebentar lagi lebaran. Nanti nggak dapat THR. Besok masuk kerja saja. Nanti berangkat dianter.” Makmun menyakinkan.

Pagi sekali aku berangkat kerja diantar suamiku. Tepat dugaanku. Di depan pabrik belum ada kawan-kawan yang demo. Tapi banyak Satpam dan polisi serta mobil polisi berjaga di depan. Tidak banyak buruh yang masuk kerja. Aku hanya melihat mandor dan supervisor. Aku tidak melihat teman-teman yang aku kenal. Itu  membuatku ragu untuk masuk kerja. Tapi suamiku terus membujuk. Dia tidak pergi sampai memastikan aku masuk ke dalam pabrik.

“Mbak mana péneng-nya?,” Satpam perempuan di pos satu menghadang langkahku.

“ Ini,” jawabku sambil menunjukan peneng yang tergantung di leher.

“Bukan yang ini Mbak,” bantahnya.

“Kalau ini peneng yang demo. Yang masuk kerja penengnya baru.”

“Tapi bu, saya baru masuk. Saya baru selesai cuti hamil.” Aku mencoba meyakinkan.

“Oh, Mbak baru selesai cuti melahirkan. Mana surat keterangan cutinya?”