MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Lingkaran Setan Kerja, Kesadaran Subjektif dan Perlawanan Kolektif

Buku ini dapat dianggap sebagai kisah tentang keagensian buruh. Banyak literatur telah memaparkan aksi-aksi kolektif buruh di Indonesia dan pengorganisasiannya, namun ilustrasi tentang kapasitas keagensian mereka nyaris tenggelam di dalam kolektivitas dari gerakan-gerakan buruh tersebut. Tokoh-tokoh (kebanyakan pemimpin serikat buruh) di pucuk-pucuk kepimpinan gerakan umumnya lebih dikenal ketimbang pemimpin-pemimpin di akar rumput, apalagi para buruh biasa, yang sebenarnya memiliki peran yang tidak kalah penting di dalam gerakan.  Suatu kepemimpinan gerakan, di tingkat mana pun, tidak pernah muncul dengan tiba-tiba. Ia datang melalui biografi panjang yang melibatkan pengalaman-pengalaman objektif dan subjektif: bermula dari akar rumput, ditempa dalam pengalaman-pengalaman keseharian yang antagonis, kemudian bertransformasi ke dalam suatu gerakan kolektif dan terlembaga.1

Kepemimpinan dalam gerakan adalah sebuah produk sejarah keagensian dalam suatu konteks sosial ekonomi politik. Setiap masa akan melahirkan watak kepemimpinan tersendiri, yang melekat ke dalam keadaan struktur ekonomi politik dan sosialnya. Seperti para buruh di dalam buku ini, kelahiran kepemimpinan mereka adalah produk dari konteks ekonomi politiknya, rezim perburuhan yang menaunginya, serta riwayat penghidupan di dalam kelas sosialnya. Namun.  ini tidak berarti kepemimpinan itu hanyalah produk pasif dari struktur, melainkan merupakan agen-agen yang aktif.2 Mereka mampu mencerna makna dari pengalaman-pengalaman pribadinya dan mengunyah arti dari peristiwa-peristiwa yang dialami kolega-koleganya yang bernasib dan beridentitas sama. Mereka juga berusaha memahami hubungan-hubungan ekonomi politik baik yang terjadi di dalam tempat kerjanya, lingkungan tempat hidupnya, hingga di ruang-ruang ekonomi-politik nasional. Dari pemahaman-pemahaman inilah mereka merespons: mengumpulkan dukungan, membangun jaringan, berorganisasi,  bernegosiasi dan melakukan perlawanan atas opresi dan ketidakadilan yang mereka temukan. Melalui proses dialektis ini, objek kekuasaan majikan untuk akumulasi kapital itu bangkit menjadi subjek yang membangun kekuatan tawarnya di dalam suatu struktur kelas sosial.  

Cerita yang ditulis oleh para buruh ini menyajikan dengan jelas bagaimana kesadaran kritis tentang kerentanan (precariousness), ketidakadilan dan subordinasi (penundukan) dalam dunia kerja, tumbuh secara sirkuler sejak mereka memasuki pasar kerja hingga terlibat dalam hubungan-hubungan produksi melalui proses-proses kerja (labour process).  Sementara itu kapasitas menggugat mereka dibentuk oleh sejauhmana mereka terlibat dalam aksi-aksi antagonis baik secara individual maupun kolektif; sedangkan  kapasitas tindakannya yang melembaga ditentukan oleh pengalaman mereka di dalam organisasi seperti serikat atau organisasi sejenis lainnya.

Meski demikian, penting pula untuk memahami bahwa hubungan-hubungan sosial seperti itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemunculan kesadaran dan kapasitas tersebut. Pada masa Orde Baru, misalnya, kondisi tersebut tidak dapat terbangun secara memadai karena struktur kesempatannya tidak memungkinkan.  Kebijakan perburuhan yang korporatis dan represif, serta penghancuran infrastruktur gerakan buruh, menghambat laju pembentukan kesadaran kolektif kelas buruh, dan pengorganisasian kelas buruh secara leluasa.   Dengan kata lain, bentuk ekonomi politik dari suatu rezim perburuhan turut memengaruhi pula perkembangan kesadaran dan keagensian tersebut.  

Berkelana di Pasar Kerja yang Rentan

Cerita ini disusun oleh para penulis berdasarkan pengalaman nyata mereka berada di dalam sebuah rezim perburuhan nasional di era Reformasi Indonesia. Di era ini, rezim perburuhan telah terintegrasi semakin jauh ke dalam model perekonomian pasar. Negara tidak lagi sebagai pengendali utama pertumbuhan ekonomi sebagaimana terjadi di era Orde Baru.   Di dalam model sekarang ini, negara menempatkan diri sebagai fasilitator dan penjamin bagi bekerjanya sebuah pasar yang mendorong akselerasi pertumbuhan investasi modal.  Hasilnya antara lain adalah sebuah pasar kerja yang fleksibel (Tjandraningsih & Nugroho, 2008), sebagaimana tercermin di dalam UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 yang belakangan ini berubah menjadi UU Cipta Kerja seperti dipaparkan oleh Suryomenggolo di bab terakhir buku ini.  

Penganjur ekonomi Neoliberal berkeyakinan bahwa pasar yang demikian memungkinkan sebuah sirkulasi tenaga kerja yang aktif, dan pada gilirannya, memungkinkan gerak ekonomi kapitalisme yang lebih produktif. Namun, sejumlah studi telah menunjukkan sisi kekhawatiran di balik optimisme semacam itu (Juliawan 2010; Hewison and Kelleberg 2012).  Fleksibilitas itu telah menciptakan juga ketidakpastian kerja (job insecurity), ketidakstabilan kehidupan sosial ekonomi, dan kerawanan di dalam hubungan kerja. 

Pengalaman pribadi yang dituangkan oleh para penulis telah membuktikan dengan sendiri argumentasi yang terakhir ini.  Hampir seluruh penulis di sini memiliki cerita panjang tentang mobilitas  pekerjaan (okupasi) mereka.  Pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang berjangka pendek dan berkali-kali mewarnai kisah mereka sebelum akhirnya berujung pada pekerjaan yang (barangkali yang) “terakhir” mereka tekuni saat menulis buku ini.  Mobilitas pekerjaan seperti ini, di satu sisi, memperlihatkan daya serap lapangan kerja yang cukup tinggi karena sifat fleksibilitasnya. Di sisi lain, pasar kerja seperti ini juga merupakan sebuah paradoks karena sekaligus memperlihatkan adanya sebuah pusaran rentan yang ditandai kondisi kerja yang buruk dan involutif. 

Sementara itu, fleksibilitas pasar kerja itu tidak hanya diindikasikan oleh perpindahan pekerjaan tetapi juga oleh ketidakstabilan aktivitas kerja itu sendiri sebagaimana ditunjukkan oleh buruh rumahan di Semarang (lihat h.36).   Buruh rumahan bekerja tergantung penawaran pekerjaan.  Akivitas buruh ini sangat rentan terhadap fluktuasi keadaan pasar.  Di bawah satu majikan yang sama, adakalanya mereka bekerja, adakalanya tidak. Keadaan ini mendorong mereka untuk mengambil “pekerjaan-pekerjaan-sela”. Ada kalanya juga mereka bekerja sebagai buruh rumahan, ada kalanya mereka bekerja sebagai buruh pabrik.3  

Informalitas menandai ciri berikutnya dari pasar kerja ini (Juliawan, 2010). Informalitas tersebut diindikasikan dari jalur rekrutmennya, sistem kontrak kerjanya, dan aktor-aktor pengendali rekrutmen.  Penulis-penulis buruh industri elektronik dan garmen, misalnya, menggambarkan adanya jalur-jalur terselubung dalam praktik-praktik rekrutmen pekerjaannya.  Salah satu contohnya adalah intervensi manajemen HRD secara informal dengan memanfaatkan penyalahgunaan wewenang yang berisiko pada kekerasan seksual (lihat h.86-87). Skema lain adalah penggunaan sistem perpanjangan kontrak melalui ormas lokal dan pemimpin komunitas (seperti ketua RT, dll), bahkan ada kalanya praktik ini melibatkan pula peran dari anggota/pengurus serikat. Sistem ini memungkinkan perusahaan mengurangi penggunaan tenaga kerja tetap, dan sebaliknya memperbesar kapasitas penggunaan tenaga kerja fleksibel seperti buruh alih daya (outsourced) atau buruh kontrak.