Orang Jalanan: Tentang Para Pembangun

Khamid Istakhori

e120f6c3-3a6a-4a41-baaa-b226fd59a98f
Deklarasi Serikat Buruh Konstruksi Indonesia, Maret 2017. Foto: Dokumentasi SBKI.

Panggung di Convention Hall Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta itu tampak terlalu luas, jika hanya diisi oleh tiga lelaki berperawakan kecil. Di atas pangggung seluas 8 x 6 meter itu, suara-suara mereka menggemakan seisi gedung.

Mereka adalah Nyonyor yang sepanjang hidupnya Numpang Tenar. Sampai tulisan ini dibuat, ia tak bersedia menyebut nama aslinya. Hanya mau disebut Nyonyor Numpang Tenar, sebagaimana ditulis di profil facebook-nya. Nyonyor berambut gimbal, seperti pemusik legendaris Bob Marley. Ia memang penyuka musik Reggae.

Ada pula Ridlo Sorak, bukan pula nama sesuai kartu tanda penduduk. Orang ini pandai bermain musik balada. Ia hampir menghabiskan hari-harinya di metro mini dan kopaja di bilangan Blok M. Terakhir adalah Reli Selamet Raharjo dengan ciri khas suara melengking-tinggi bak rocker. Hari itu lengkingan suara Reli menjadi penanda terbentuknya Serikat Buruh Konstruksi Indonesia atau disingkat SBKI.

Saya bersama kawan-kawan Serikat Buruh Kerakyatan atau Serbuk pertama bertemu dengan Nyonyor pada 2015. Saat itu kami menggelar konser antikorupsi di Karawang Jawa Barat. Setelah itu kami berkawan; sering bertemu dan berdiskusi. Nyonyor pun meramaikan acara Kongres II Serbuk, pada 9 Oktober 2016 di Kampung Budaya Karawang. Nah, 10 Maret lalu, kami kembali menjadi saksi kekuatan suara Nyonyor. Hari itu ia mendendangkan salah satu puisi sastrawan buruh, Wiji Thukul, berjudul Tentang Sebuah Gerakan.

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

Puisi-puisi Wiji Thukul memang lugas. Tidak ada pilihan kata yang diindah-indahkan. Sama seperti puisi di atas. Puisi yang dibuat pada 1989 itu dengan gamblang menuntun pembacanya agar cermat dalam memilih diksi. Dengan puisi tersebut Wiji Thukul menegaskan bahwa dirinya bagian dari masyarakat tertindas dan sebagaimana manusia biasa harus berjuang mendapatkan kebutuhan hidupnya.

Dari tempat duduk, saya menyaksikan Nyonyor berhasil membuat puisi tersebut semakin indah terdengar. Nyonyor seperti sedang menggugah para pendengarnya agar menjadi bagian dari masyarakat yang berjuang merebut hak-haknya.

Ridlo Sorak. Saya harus menulisnya dengan tinta hitam tebal dengan garis bawah merah. Dia ini anak mudah yang cinta belajar. Pada 5 Mei 2016 di acara pameran buku Jogja adalah Buku, saya menyaksikan ia memetik gitar dengan apik. Jemarinya menari-tari di antara senar gitar mengiringi lirik yang ia gubah sendiri. Dalam berbagai kesempatan, kami tak pernah melewatkan penampilan Ridlo.

Seperti Nyonyor, Ridlo pun meramaikan Kongres II Serbuk. Saat itu, di kala istirahat Kongres tetiba ia mengajukan pertanyaan yang tidak mudah saya jawab. Katanya, apa yang bisa dilakukannya agar terlibat dalam derap perjuangan kaum buruh?

Dengan sedikit meraba-raba maksud pertanyaanya, saya mengatakan, pertama, kamu bekerja untuk menghidupi dirimu sendiri. Itu artinya, kamu adalah buruh. Saya tahu, pada pagi hingga sore, Ridlo bekerja sebagai penjaga toko handphone di Jogja. Sebenarnya, tempatnya bekerja Ridlo telah merambah ke fungsi lain. Itu bukan sekadar toko penjual gadget, namun mirip tempat berkumpul kawan-kawan Serbuk Jogja. Dari toko itu pula, kawan-kawan sering berhutang pulsa atau kuota internet.

Kedua, saya menjelaskan bahwa berkesenian adalah kesempatan untuk berpihak. Bukan sekadar terlibat.  Mendatangi buruh, menemani mereka, kemudian mengajak buruh ngobrol. Membicarakan tentang keadaan sehar-hari. Dari situlah kesempatan untuk mencatat dan meramunya menjadi syair-syair lagu. Syair-syair lagu itulah yang memperlihatkan kedudukan seniman dalam derap langkah perjuangan buruh.

Kemarin, di Jogja, Ridlo tampil percaya diri. Suaranya semakin kuat. Dia melantunkan lagu Orang-orang Di Jalanan. Syairnya seperti ini:

Ketika jalanan mulai sepi
Ia bersandar depan pertokoan
Mengistirahatkan badan
Mengembalikan tenaga yang telah hilang
Setelah lama perjalanan
Melawan kerasnya arus di jalanan
Pada sepinya malam sebelum terpejam
Ia mencoba berterus terang
Mata jiwa menuju ingatan
Mengingat jejaknya dan jalan yang terlewati
Jalanan kota adalah kehidupannya
Mencari hidup dengan cara apa saja
Orang di jalanan mencari keadilan
Orang di jalanan bertanya tentang kemerdekaan
Orang di jalanan mencari keadilan
Orang di jalanan bertanya tentang kemerdekaan

Kata Ridlo, lagu tersebut terinspirasi ketika ia mengendarai sepeda motor mengelilingi Jogja. Sepanjang perjalanan itu, Ridlo menyaksikan tentang hidup di jalanan yang serbakeras. Tapi orang-orang yang hidup di jalanan tidak akan mampu menghindar dari situasi tersebut. Jalanan adalah ruang hidup mereka. Jalanan adalah kota kehidupan, mencari hidup dengan cara apa saja. Sekitar April 2016, sepulang berteater di Jepara, ia sakit. Waktu sakit itu menjadi ruang buatnya merenung sehingga lahirlah lagu tersebut.

Bagi Ridlo, buruh-buruh konstruksi juga merupakan orang jalanan. Sebagian dari para buruh bangunan itu mudah ditemui di pinggir jalan untuk mengerjakan proyek insfrastruktur atau menunggu datangnya panggilan bekerja untuk membangun.

Melalui Nyonyor dan Ridlo, saya menemukan benang merah mengenai pertarungan dan jarak antara hidup dan mati; betapa kerasnya buruh-buruh berjuang untuk mempertahankan dirinya.

Tukang Bangunan, Bertaruh Nyawa

Sore hari, Deklarasi SBKI hampir selesai. Bagi kami peristiwa ini merupakan permulaan sejarah. Slamet, sehari-hari tukang aduk semen dan pasir, sembari menantang sengatan matahari. Kulitnya gosong. Kadang, Slamet akan terlihat di ketinggian, sangat tinggi, untuk memasang batu bata, memotong besi, atau pipa-paralon. Kadang, tangan kekarnya menggenggam palu dan pake untuk mengokohkan bangunan. Hari itu, saya melihat Slamet bercahaya. Kedua tangannya memegang secarik kertas, membacakan naskah deklarasi.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh saya melihat urat leher Slamet nyaris keluar. Suaranya memenuhi seisi ruangan. Suara yang merindukan keadilan. Demikian naskah itu:

Tangan kami, yang membangun gedung-gedung.
Maka tangan kami pula yang harus mengubah nasib kami.
Dan organisasi, adalah alat untuk mengubahnya.
Hari ini,
Dengan keyakinan pada kekuatan dan solidaritas,
Kami mendeklarasikan alat perjuangan kami :
Serikat buruh konstruksi indonesia

Bait-bait Deklarasi sarat makna. Bayangkan! Sebuah tanda peradaban manusia sedari zaman kerajaan hingga Abad Milenium; dengan kerajaan yang mewah, candi-candi yang ajaib, gedung-gedung menjulang ke langit nan gagah, jalan tol, dan pelabuhan, para tukang bangunan dilupakan. Candi disebutnya karya para jin dan kehebatan para raja dan bangunan kekinian disebutkan karya terbaik para arsitek cemerlang. Tukang bangunan? Dihempas dan dibuang. Inilah makna penting Deklarasi SBKI. Kami akan turut mengukir dan membangun sejarah bersama buruh-buruh lainnya.

Sungguh, dalam situasi ini saya harus kembali mengakui bahwa suara saya berat dan serak, tercekat di tenggorokan. Ada rasa haru yang sangat. Saya membayangkan betapa Slamet yang bertubuh kecil itu, begitu hebat memimpin sebuah inisiatif untuk berjuang memperbaiki nasibnya, keluarganya dan kawan-kawannya.

Slamet mewakili teriakan yang lama menghilang tak terdengar mengenai kematian buruh di Indonesia akibat kecelakaan kerja. Jumlah kecelakaan kerja di sektor Konstruksi mencapai angka 30 persen dari total angka kecelakaan kerja. Buruh konstruksi, yaitu Slamet dan kawan-kawannya adalah buruh dengan ancaman terbesar mendapatkan resiko itu.

Mengenai kondisi tersebut, kawan saya Darisman di awal acara bercerita tentang kesehatan kerja. Dengan mengutip data BPJS, ia mengatakan ada sekitar 2.400 orang buruh meninggal karena kecelakaan kerja. Kecelakaan yang tinggi tersebut nyaris terjadi tiap hari. Sayang sekali respons para pegiat perburuhan tidak seheboh gosip politik.

Bayangkan! Seandainya muncul berita yang menyatakan 2.400 mahasiswa pecinta alama atau 2.400 politisi dari berbagai partai yang meninggal. Dipastikan media massa komersial tidak akan kehabisan akal untuk menggali berita tersebut, bahkan bisa diberitakan terus menerus selama sebulan. Benar kata sebagian orang, media massa komersial lebih tertarik dengan informasi yang bersifat permukaan dan sensasional.

Tapi ada yang perlu dicermati. Jangan-jangan, cara pandang kita tentang nilai kemanusiaan buruh sangat rendah. Jumlah kematian hingga mencapai duaribu orang itu mengandung beragam makna. Dari angka itu terdapat makna kepala kepala keluarga yang meninggalkan istrinya, keluarga yang kehilangan tumpuan hidupnya, anak dan anggota keluarga lainnya. Ini, berarti pula, setiap mengunjungi gedung-gedung, kantor, bandara, bendungan, jalan tol, jembatan artinya kita sedang menziarahi para korban itu. Tepatlah pernyataan bahwa tempat kerja adalah kuburan!

Slamet, buruh konstruksi dari desa di Gunung Kidul itu berdiri tegak. Mendeklarasikan sikapnya, menyatakan harapannya. Di belakangnya, bertautan harapan dan kerinduan dari kawan-kawannya yang hari itu tak bisa hadir sebab masih harus berjibaku mengecor jalanan, memasang batu bata, mengaduk semen, menggali tanah untuk pondasi atau menjalankan molen mencampur adonan semen pasir air dan kerikil untuk dinding perkantoran.

Slamet tak tahu ada Undang-undang K3 yang usianya lebih tua darinya. Yang dia tahu, undang-undang itu tak berguna sebab dia dan teman-temannya bekerja tanpa perlindungan. Upahnya murah, dipotong paksa para mandor, ditahan beberapa hari dengan paksaan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan kadang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keseharian keluarganya.

Lalu, sayup-sayu kembali saya mendengar, puisi Wiji Thukul dinyanyikan dengan suara yang lirih. Tetiba batin saya berkata: Jangan pernah biarkan Slamet berjalan sendirian!

Khamid Istakhori, aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia.

Leave a Reply