MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Buruh Perempuan di Pabrik dan Serikatnya Laki-laki: Resensi Film


Judul: North Country
Tahun Rilis: 2005 (Amerika Serikat)
Sutradara: Niki Caro
Durasi: 126 menit

Judul: Made in Dagenham
Tahun Rilis: 2010 (Inggris)
Sutradara: Nigel Cole
Durasi: 113 menit

Perempuan buruh setidaknya menyandang dua status yang membuatnya dalam posisi rentan pada ketertindasan. Pertama, sebagai perempuan dalam masyarakat yang patriarkis. Sebagai perempuan dalam masyarakat yang justru akan mencari-cari kesalahannya ketika dilecehkan, atau mengharuskannya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang sebetulnya dapat dibagi secara proporsional dengan pasangannya. Kedua, perempuan sebagai bagian dari kelas buruh yang dipandang rendah curahan kerjanya dalam masyarakat kapitalis. Sebagai adalah bagian dari kelas yang kerja kerasnya tidak diganjar dengan pantas. Banyak di antara buruh mengorbakan masa remaja dan kesehatannya demi meremajakan dan menjaga kesehatan kapital, lantaran tak tersedia baginya pilihan lain.

Jika mengemban dua status di atas belum cukup berat, bayangkanlah diri sebagai Josey Aimes dalam North Country. Josey bukan hanya perempuan buruh, dia juga menyandang status lain yaitu janda cerai setelah meninggalkan suaminya yang hobi selingkuh dan gemar memukul. Josey kemudian pulang ke rumahnya, rumah seorang laki-laki: ayahnya, Hank Aimes. Hank tidak begitu terenyuh pada kondisi anak perempuanya yang pulang dengan lebam di wajah.Ia justru mencurigai anak perempuannya berulah sehingga mengundang pukulan dari pasangannya.

Membawa dua anak, Josey yang tak mau membebani orang tuanya memutuskan untuk bekerja di pertambangan besi. Ayahnya juga bekerja di pertambangan besi tersebut. Film yang dirilis 2005 ini berlatar 1989, hampir 15 tahun setelah pertambangan di Minnesota Utara untuk pertama kali turut mempekerjakan perempuan pada 1975. Apakah terbukanya tambang bagi pekerja perempuan merupakan kemenangan bagi kaum perempuan?

Tunggu dulu. Josey dan buruh perempuan lain toh kemudian menemukan diri mereka di tengan-tengah pabriknya laki-laki, pabrik yang dimiliki pemodal laki-laki dan didominasi pekerja laki-laki. Tidak hanya itu, serikatnya pun serikat laki-laki yang tidak terlalu menganggap serius suara anggota perempuan. Terkepung di pabrik dan tak didengar di serikat, para buruh perempuan pun semakin rentan menjadi korban pelecehan sehari-hari. Ketika pelecehan terhadap para buruh perempuan semakin kurang ajar dan tanpa malu-malu, Josey yang kerap menjadi sasaran menolak berpasrah diri. Ia memecah kebisuan kawan-kawannya—tindakan berani yang memperuncing permusuhan, lalu mengajukan gugatan class action di pengadilan.