MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Relokasi Pabrik: Mengumpulkan kekayaan dengan mudah dan murah

PT Laspo, perusahaan pindahan dari Purwakarta, PT Dada Indonesia. Sedang sosialisasi lowongan kerja di sebuah sekolah. Sejak 2018, menjadi PT Hansoll Indo Java.


PT Laspo, perusahaan pindahan dari Purwakarta, PT Dada Indonesia. Sedang sosialisasi lowongan kerja di sebuah sekolah. Sejak 2018, menjadi PT Hansoll Indo Java.

Dua puluh tahun lalu, Tini melamar kerja melalui seorang kepala desa di Temanggung untuk bisa diberangkatkan ke Tangerang untuk bekerja di pabrik. Itulah pengalaman pertama kali dalam hidupnya. Di Tangerang, ia tinggal di sebuah rumah bersama beberapa buruh perempuan lain dari daerah yang kurang lebih sama. Setelah beberapa bulan, Tini keluar dari rumah itu dan mengontrak tempat tinggal sendiri.

Sementara itu bagi perempuan yang tinggal sekitar pabrik di Tangerang, misalnya di sekitar Panarub, tidak ada persyaratan khusus yang diminta oleh perusahaan untuk melamar. Cukup dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Orang yang tinggal di sekitar pabrik sering diistilahkan, warga lokal. Bahkan, ada cerita di mana perempuan memalsukan KTP untuk bisa mendaftar kerja. Seperti Esih (48 tahun), yang 25 tahun lalu mendaftar kerja di Panarub, ia hanya berbekal KTP. Di Panarub, waktu itu, bahkan ada banyak buruh yang buta huruf. Karena pabrik sangat membutuhkan tenaga kerja, siapapun bisa bekerja tanpa persyaratan formal.

Kini, di wilayah-wilayah pengoperasian pabrik lama, pabrik-pabrik yang dibangun di kurun 1980-1990-an, tidak mudah mendapat pekerjaan. Sejumlah kualifikasi formal harus dipenuhi: lulusan sekolah menengah atas, umur di bawah 25 tahun, surat keterangan berkelakuan baik, berpengalaman, dan lainnya. Itu pun tidak cukup. Untuk memastikan lamaran kerja berada di meja HRD (Human Resource Departement) harus memiliki koneksi dengan ‘orang dalam’. Tidak jarang harus merogoh kocek agar lamaran benar-benar diproses dan diterima bekerja.

Di wilayah tujuan pembukaan pabrik baru, proses perekrutan mirip yang terjadi di Jabodetabek dan Bandung Raya, di periode ketika pabrik-pabrik tersebut mulai beroperasi. Dengan beberapa modifikasi, informasi lowongan kerja disebarkan ke sekolah, ditempel di depan pabrik dengan ukuran besar, di tembok-tembok pinggir jalan dan di media sosial. Dalam lowongan kerja, para pengelola pabrik tanpa malu menulis dan menyebut hak yang melekat kepada buruh seperti upah minimum, upah lembur dan tunjangan-tunjangan lainnya, sebagai fasilitas. Tentu saja hal-hal demikian bukan fasilitas. Tapi, hak yang harus dipenuhi dan otomatis diterima ketika terdapat ikatan hubungan kerja.