MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Antara Revisi UU Ketenagakerjaan dan Proyek Modal Manusia

ilustrasi


Pendidikan merupakan salah satu sektor publik terpenting dalam menentukan keberadaan suatu peradaban. Ini karena pendidikan memegang peran dalam mengembangkan sumber daya manusia, teknologi dan ilmu pengetahuan. Ketiga aspek tersebut amat krusial tentunya, mengingat suatu peradaban harus senantiasa mengikuti arus perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya, baik di level mikro, maupun makro. Dengan terpenuhinya tiga prasyarat mendasar itu lah suatu peradaban akan dapat terus bergerak menuju tonggak kemajuan.

Fungsi pendidikan di atas merupakan proyeksi ideal, namun jelas bukan tanpa masalah. Pasalnya, di tengah dinamika realitas global hari ini pendidikan justru mengidap beragam permasalahan akut. Hal ini dapat disaksikan berangkat dari fenomena di permukaan; semakin melonjaknya tarif pendidikan, penyesuaian rancangan kurikulum dengan kebutuhan industri, jual-beli aset pendidikan negeri, bongkar-pasang program studi hingga mekanisme kontrol mutu universitas (akreditasi). Semua fenomena tersebut seringkali mengakibatkan terjadinya gesekan antar klas-klas dalam masyarakat.

Sekumpulan fenomena yang disebutkan sebelumnya tidaklah hadir dari ruang kosong. Apabila diusut lebih dalam, ragam fenomena permasalahan yang hadir hari ini adalah konsekuensi logis dari paradigma sistemis yang membentuk alur sistem pendidikan. Paradigma itu bernama Teori Modal Manusia (Human Capital Theory).

Secara ringkas, Teori Modal Manusia mendefinisikan pendidikan berdasarkan kacamata produktivitas ekonomi. Fungsi edukatif pendidikan haruslah berorientasi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara berlandaskan prinsip pasar bebas. Implikasinya, pendidikan dan sumber daya manusia di dalamnya dipandang sebagai investasi. Pendidikan haruslah membuka akses luas investasi dan kerjasama industrial, sehingga mampu turut mendongkrak perekonomian global. Paradigma ini juga memandang perilaku orangtua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah sebagai investasi. Orangtua menyekolahkan anaknya sebagai bentuk investasi masa depan keluarga, sehingga sang anak mampu mendongkrak perekonomian keluarga. Semakin tinggi sekolah sang anak, semakin tinggi human capital-nya, semakin besar pula kesempatanya memperoleh kehidupan yang mapan.

Human capital (keterampilan, kognisi, etos kerja, kekayaan dll) adalah ukuran paradigma Teori Modal Manusia dalam memandang manusia. Asumsi dasarnya ialah ketika manusia memiliki human capital yang tinggi, maka produktivitasnya pun pasti meningkat. Produktivitas yang tinggi dari suatu individu akan membekalinya ketika menghadapi dunia pasar bebas yang sarat akan persaingan. Manakala suatu individu kalah dalam persaingan maka itu dianggap sebagai kondisi alamiah yang sudah semafhumnya terjadi.

Kondisi demikian dapat kita saksikan dalam konteks Indonesia. Biaya pendidikan yang semakin melonjak naik sebagai akibat dari otonomi perguruan tinggi yang dilegitimasi oleh UU No. 12 Tahun 2012 sehingga semakin meminimalisasi tanggung jawab negara melalui APBN, telah berujung pada bertambahnya rakyat yang tidak mampu mengakses pendidikan. Rancangan kurikulum yang semakin berorientasi pada Revolusi Industri 4.0 telah berakibat pada terbentuknya corak pendidikan yang berorientasi pada reproduksi tenaga kerja cakap. Ini karena semakin ketatnya kualifikasi angkatan kerja yang dapat menjadi tenaga kerja tetap yang siap bersaing dalam perekonomian global.

Jika ditelaah lebih dalam, orientasi pendidikan untuk mencetak tenaga kerja cakap tentunya beranjak dari berubahnya kondisi ekonomi-politik global, terutama di sektor ketenagakerjaan. Agenda neoliberalisme yang lama digawangi oleh Amerika Serikat telah berimplikasi pada terbukanya sirkulasi modal dan migrasi tenaga kerja tanpa mengenal batas negara. Secara lebih terperinci, peta persebaran tenaga kerja tidaklah dapat diidentifikasi berdasarkan letak geografis semata, melainkan harus berdasarkan identifikasi rantai nilai-pekerja (global labour-value chain). Ini dapat diperhatikan dari fenomena migrasi masif tenaga kerja dari suatu negara ke negara lain yang semakin sering terjadi, berikut permasalahan imigrasi yang menyertainya. Hal ini pastinya akan berdampak pada semakin ketatnya peta persaingan tenaga kerja dalam pasar global.

Sekilas tentang Teori Modal Manusia

Selama sejarah perkembangannya, embrio Teori Modal Manusia dirumuskan oleh Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776). Dalam karya besarnya tersebut, Adam Smith menjabarkan prinsip mendasar fungsi instrumental manusia sebagai elemen sumber daya yang menjalankan roda ekonomi negara. Pada perkembangan berikutnya para pemikir ekonomi klasik pertama mengembangkan teori Adam Smith tersebut dengan membentuk klasifikasi antara kapital dan manusia itu sendiri. Sementara pada generasi kedua pemikir ekonomi klasik, formulasi konsep manusia sebagai kapital barulah dibakukan. Beranjak dari epistemologi dua mazhab tersebut, manusia direduksi penilaiannya hanya dengan cara pandang nilai-tukar.

Pada tahun 1960 paradigma Teori Modal Manusia sudah menjadi pemikiran yang banyak mempengaruhi kebijakan-kebijakan pendidikan di barat. Hal ini tercermin dari semakin masifnya promosi kebijakan pendidikan yang membubuhkan metafora “riset”, “inovasi, “pendidikan” dan “kompetitif”. Salah satu aktor yang mempromosikan Teori Modal Manusia adalah Organizationn for Economic Cooperation and Development (OECD). OECD mempublikasikan banyak laporan tentang peran pendidikan dalam era globalisasi. Salah satu promosi yang paling signifikan adalah upaya untuk mensinergiskan hubungan antara sektor privat-publik dan internasionalisasi sistem pendidikan skala global. Selain OECD, Bank Dunia juga menjadi aktor besar promotor Teori Modal Manusuia. Laporan Erwin. R. Tiongson, seorang ekonom yang kajiannya dipublikasikan ulang Bank Dunia, bertajuk Education Policy Reform, menjabarkan pentingnya perombakan kebijakan demi mendorong pendidikan yang menciptakan tenaga kerja produktif demi mengisi skrup-skrup industri.

Bahkan hari ini, Bank Dunia melalui laporan terbarunya World Development Report 2019: Changing Nature of Work, kembali menggembor-gemborkan narasi Teori Modal Manusia melalui Proyek Modal Manusia (Human Capital Project). Di laporan tersebut, Bank Dunia menjabarkan tuntutan pasar global hari ini akan tenaga kerja cakap yang semakin tinggi. Oleh karena itu institusi pendidikan dituntut untuk melakukan perubahan besar-besaran di level birokrasi, kurikulum dan kebijakan. Tuntutan ini menyusul gelombang lanjutan dari pemberlakuan pasar tenaga kerja fleksibel (labour market flexibility), yang mana struktur ketenagakerjaan antara pekerja tetap (regular workers) dan pekerja tak-tetap (non-regular workers) akan semakin dipertegas. Seleksi tenaga kerja tetap akan semakin ketat, sementara para pekerja yang kalah bersaing akan dilarikan menjadi pekerja tak tetap (kontrak atau outsourcing).