MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

G20, Fast Fashion, Fast Exploitation


Tulisan ini mendeskripsikan tentang hubungan fast fashion, infrastruktur digital, logistik serta integrasi pasar keuangan global. Negara menyediakan fasiltas tersebut melalui kesepatan internasional seperti G20. Sementara pengelenggara negara sibuk menyediakan pelayanan prima bagi investor dan keuntungan pemilik merek fast fashion menggelembung, keadaan perburuhan seperti Abad 18. Tanda pemburukan situasi perburuhan adalah kontrak individual, jam kerja panjang dan pekerjaan yang menguras tenaga. 

Dari Hijab Syar’i hingga Bikini

TREN TERKINI, jenis pakaian dari ujung kaki hingga penutup rambut beserta aksesorisnya tersedia di pasar. Modelnya beragam. Disediakan sesuai minat, bakat, identitas dan umur. Berbagai mode pakaian: dari jilbab syar’i hingga celana mini, dari pakaian gaya eksekutif muda hingga pendaki gunung, dari sepatu moncong hingga sepatu sneaker. Jenis desainnya; memadukan pakaian mewah dengan pakaian biasa, pakaian event dengan pakaian sehari-hari. Industri ini melengkapi desain pakaian yang dibuat berdasarkan kebutuhan musim dan event olahraga. Inilah kecenderungan baru dalam industri fesyen, yang diistilahkan dengan fast fashion atau ultrafast fashion. Industri yang menghadirkan jenis pakaian sekali pakai, murah, desain selalu baru, dan dijual langsung oleh retailer.[1]  

Di zaman media sosial pakaian merupakan simbol sosial. Terdapat kecenderungan di banyak kalangan hanya menggunakan pakaian sekali atau dua kali pakai, bahkan merasa tertekan jika  menggunakan pakaian yang sama untuk foto media sosial yang berbeda.[2] Rezim yang menyertai pengukuhan mode ‘pakaian sekali pakai’ adalah ungkapan ‘ketinggalan zaman’ ‘barang tiruan’, ‘palsu’, ‘KW’, dan ‘outfit jadul’. Pengguna pakaian seolah dituntut selalu trendi, up to date, fashionable dan ori. Para influencer dan selebritas berjasa besar sebagai marketing dalam menguatkan mode fast fashion.[3] Dalam fast fashion, barang memilik tiga lapis makna: nilai guna, nilai jual dan nilai sosial. Ketiga nilai itulah yang ditempa oleh buruh di setiap rantai produksi. Sedangkan buruh sekadar dibayar untuk nilai guna dari jenis barang dagangan.

Industri fast fashion berkembang di periode 2000-an. Dipelopori oleh Zara dan H&M, kemudian diikuti merek lain. Nike dan Adidas, yang dikenal merek pakaian olahraga, juga menjual pakaian casual. Fast fashion mampu memproduksi sebelas hingga 24 macam jenis koleksi pakaian setiap tahun dengan jumlah produksi yang meningkat setiap tahun.[4] Dari rancangan desain hingga penjualan di toko hanya dibutuhkan waktu lima hingga dua minggu.[5] Zara membuat duapuluh koleksi desain pakaian berbeda dalam setahun, sedangkan Missguided merilis sekitar 1.000 produk baru setiap bulan, dan Fashion Nova membuat 600 hingga 900 gaya baru setiap minggu.[6] 

Rantai produksi fast fashion sedang menggeser mode pembuatan sourcing. Sistem sourcing dianggap terlalu mahal, lama dan terbatas menjangkau pasar. Produksi barang sourcing; dari mendesain, memotong, merangkai hingga mengirim, dibuat di tempat yang berbeda dengan jumlah buruh yang relatif massal. Fast fashion mengurangi rantai produksi, proses pengerjaan lebih cepat dan banyak, pengiriman barang lebih cepat serta dapat menjangkau konsumen lebih banyak.

Industri fast fashion dimungkinkan dengan perluasan dan keterhubungan teknologi baru yang menciptakan online shop, e-money, big data, artificial intelligence, otomasi produksi dan infrastruktur logistik. Online shop dan e-money mengurangi mata rantai distribusi antara konsumen dan retailer. Big data dan artificial intelligence memangkasi agen periklanan konvensional. Kini hampir seluruh retailer dunia memiliki oulet online atau bekerjasama dengan toko online yang dianggap kredibel di pasar dan membayar jasa periklanan virtual yang menyapa langsung konsumen tanpa mengenal batas waktu dan ruang. Pasar virtual diintergrasikan dengan pembayaran digital dapat mengurangi waktu pembayaran melalui ATM, apalagi tunai. Bahkan, pembayaran digital menyediakan menu pembelian cicilan barang. Semua itu difasilitasi oleh infrastruktur digital: gadget, perluasan dan kecepatan konektivitas virtual.

Teknologi otomasi mengurangi jumlah pabrik pemasok termasuk jumlah buruh manual disertai dengan percepatan jumlah produksi barang. Sedangkan infrastruktur logistik memastikan pengiriman barang tepat waktu. Misalnya, Adidas menyebut alat kerjanya dengan speedfactory, yang meringkas pembuatan upper dan midsole dengan 3D printing. Metode kerja tersebut diperkirakan mampu memotong proses pembuatan sepatu dari 60 hari menjadi seminggu. Sedangkan, Nike menyebut manajemen produksinya dengan manufacturing revolution. Melalui metode tersebut, Nike  memangkas 15 persen jumlah pabrik pemasok dan mengalihkan penjualan barang di toko daring.[7] Sampai akhir 2018, Nike mengirimkan lebih dari 1.200 mesin otomatis baru ke pabrik pemasoknya di Asia. Mesin-mesin tersebut akan mengotomasi pemotongan, penyablonan, perakitan dan pembuatan sol.[8]

Nike bekerjasama dengan NFL (The National Football League), pada 2020 dan bekerjasama dengan Perry Ellis, sejak 2003. Sebagai salah satu pemilik saham retailer Fanatics, NFL memiliki hak eksklusif memesan barang dan menjual barang merek-merek Nike.[9] Hak yang sama dijual pula kepada retailer Perry Ellis International. Menurut penelitian CBInsights 2022, Fanatics merupakan toko online dengan status unicorn dengan valuasi sebesar 27 miliar dolar AS. Saham terbesar Fanatics dikuasai raksasa keuangan SoftBank Group, Andreessen Horowitz dan Temasek Holdings.[10] Jadi, dari penyediaan layanan infrastruktur digital dan sapaan ‘buruan lagi banyak promo’, ‘casback’ dan ‘gratis ongkos kirim’, terdapat keuntungan hubungan mutual antara pemilik merek dan raksasa keuangan internasional.  

Sementara itu, modernisasi alat kerja di atas, menjelaskan penutupan beberapa pabrik printing dan label yang melayani merek internasional. Seperti dialami PT SS Print di Bekasi, PT Mikwang di Tangerang dan PT Master Wovenindo di KBN Marunda.

Industri fast fashion, setidaknya, mendorong jenis-jenis buruh baru, yaitu para kurir, pengemas barang di pergudangan, admin, programmer, penjaga toko, dan marketing online. Beberapa jenis pekerjaan baru tersebut terpecah di perusahaan yang berbeda tanpa ikatan kerja yang jelas dengan jenis pekerjaan menembus ruang dan waktu. Di industi manufaktur dan perkebunan jenis buruh disebut dengan buruh borongan, harian lepas dan buruh rumahan, tapi pengusaha menyebutnya mitra, pemerintah menyebutnya UMKM. Sedangkan para buruhnya lebih bangga menyebut diri sebagai pekerja professional, kontraktor independen, freelancer dan part-timer.