MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Jalan Terjal Mencari Keadilan

Image credit: Louis Roe

Sore yang cerah, angin yang semilir, gemerisik suara dedaunan menemani setiap langkah kakiku Di setiap putaran, beberapa ekor kucing gembul tampak rebah bersantai di bawah pohon yang rindang. Taman ini dikenal ramah dengan binatang berbulu itu, di kuping mereka tampak terpotong sedikit sebagai tanda telah disteril. Bila jam 16:00 WIB tiba, seorang perempuan akan meletakkan beberapa piring berisi makanan basah bercampur dry food di setiap sudut taman. Tak perlu waktu lama, beramai – ramai binatang berbulu akan menyantap dengan lahap tanpa berebut, tak jarang mereka antre. Cukup manis bukan? bahkan binatang pun bisa hidup teratur saat perut terisi.

Setelah 5 putaran mengelilingi taman yang terletak di Kelapa Gading itu, aku berhenti sejenak dan menatap jam tangan di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 16:30 WIB. Sambil mengusir lelah dan haus, kuteguk sebotol air minum. Kusapu pandangan ke sekeliling taman mencari sosok yang kukenal, namun lama tak bersua.

Namanya, Ika Ching, kami seusia, menghabiskan masa pendidikan yang sama di bangku kuliah, di sebuah  universitas swasta di Yogyakarta. Kabar tentangnya tak banyak kudengar setelah sekian lama kami lulus. Mungkin saja karena kami menempuh jalan yang berbeda untuk bertahan hidup. Beberapa kali menghadiri reuni alumni di Jakarta, tak kulihat ia hadir atau sekedar mendengar kabar tentangnya pun tidak. Namun, selang 16 tahun, tiba – tiba aku menerima pesan darinya di inbox FB. Singkat cerita, Ika ingin bertemu dan bercerita tentang persoalan yang kini dihadapi.

Tak lama, kulihat sosoknya memasuki gerbang taman, peluh keringat memenuhi kening dan wajahnya. Sore itu ia mengenakan kaos oblong berwarna biru muda yang basah dengan keringat, berpadu dengan celana jeans biru muda. Rasa bersalah menyelimuti diri saat kutahu ia berjalan kaki dari halte busway Sunter Kelapa Gading ke Taman Jogging 1.

“Mengapa jalan kaki? Kan jauh” tanya ku sesaat setelah kami duduk di sebuah warung, di dalam taman

“Aku nggak ada uang Di, kukira dekat, ternyata jauh.”

“Lah jauh dong”  Tak berapa lama kuraba saku dan dompetku, juga tak ada selembar uang pun untuk sekedar membelikan temanku ini sebotol minuman. Akhirnya, kumintakan segelas air putih biasa sebagai penghilang lelah.

Tak terasa, waktu terus mengalir, sore hari yang cerah berubah menjadi sendu seiring langit yang menjingga karena matari meredup.

Namanya Ika Ching, ia adalah keturunan tiong hoa, tinggal sebatang kara sejak usia SD. Orang tuanya sejak lama meninggal dunia dan harus menghbiskan masa remajanya di Jakarta. Ika, terbiasa hidup sendirian, namun kengerian tak pernah pergi menjauh. Kesepian adalah satu – satunya teman, terutama bila persoalan mendera, tak ada satupun, baik teman maupun keluarga mendekat. Saat-saat itu adalah saat  paling mengerikan. Tak ada tempat bersandar, tak ada tempat untuk pulang, tak ada tempat untuk beristirahat. Bagi Ika, yang merupakan golongan minoritas di negeri bhineka ini, hidup bagai belantara dengan ranjau di mana-mana.

Selama duduk di bangku kuliah, jujur, aku tak banyak mengenal Ika. Maka, dengan hadirnya momen bertemu Ika seperti sekarang ini, merupakan momen bagiku untuk mendengar dengan khidmat. Satu demi satu kata mengalir, tak jarang air mata menetes dari kedua belah matanya. Sesekali kusodorkan tisue untuk sekedar menyeka matanya yang sembab.

“Aku dibuang begitu saja, padahal aku sudah bekerja sampai larut malam, kadang sampai dini hari tanpa upah lembur” ucapnya.

Singkat kata, Ika bekerja di sebuah perusahaan ekspor import, tugasnya adalah memeriksa barang yang hendak dikirim, mulai dari alamat, jumlah barang dan lain-lain. Ia diupah sebesar Rp 7 juta per bulan dengan kontrak selama setahun. Dengan upah sejumlah itu lah ia rela meninggalkan tempat kerja sebelumnya yang jauh di bawah Upah Minimum Provinsi. Ika bercerita, seorang teman dekat menawarkan kepada dirinya untuk bekerja di perusahaan ekspor import tersebut, sebut saja Perusahaan Suka Marah. Teman dekatnya itu mengatakan bahwa PT. Suka Marah adalah milik seorang saudara jauh yang terhitung  baru dan butuh bantuan orang berpengalaman. Orang berpengalaman itu, tentu saja adalah Ika.