MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Ojol Adalah Pekerja, Bukan Mitra!

Dalam beberapa tahun terakhir banyak media melaporkan bahwa perusahaan transportasi berbasis aplikasi telah mencatat keuntungan yang luar biasa dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dua raksasa perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Gojek dan Grab, mengatakan setiap tahun mereka berkontribusi puluhan triliun untuk pembangunan ekonomi masyarakat. Indonesia memang merupakan pasar yang menggiurkan bagi sektor transportasi berbasis aplikasi karena banyaknya tenaga kerja muda pengguna internet. Respon pemerintah di satu sisi memberikan insentif untuk investasi dan di sisi lain menghindari peraturan ketat tentang hubungan kerja juga berkontribusi pada pesatnya pertumbuhan sektor ini.

Tulisan ini akan mendiskusikan tiga hal. Pertama, bagaimana perkembangan sektor transportasi berbasis aplikasi ini ditopang sepenuhnya oleh kondisi kerja yang buruk terhadap drivernya? Kondisi-kondisi ini dimungkinkan karena perusahaan aplikator terus meningkatkan kontrol terhadap para drivernya dengan berbagai cara. Perusahaan terus menurunkan tarif dan insentif yang berdampak pada penurunan pendapatan pengemudi, serta belum adanya regulasi mengenai jam kerja layak, upah layak, dan jaminan kesehatan. Kedua, tulisan ini juga akan memaparkan beberapa dampak serius yang dialami pengemudi ojol, seperti bunuh diri, terlilit hutang, dan lain sebagainya. Ketiga bagaimana resistensi yang dilakukan oleh para driver direspon oleh pemerintah dan aplikator?

***

Peristiwa Percobaan Bunuh diri Ojol

29 Juni 2022, seorang pemuda berusia 23 tahun yang berkerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) ditemukan meninggal dengan kepala terputus di perlintasan kereta Kali Jaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Saat ditemukan, tangannya masih menggenggam smartphone yang biasa digunakan untuk mengambil order. Sepeda motornya terparkir di samping rel tak jauh dari jasadnya. Dari hasil otopsi, korban meninggal karena terlindas kereta api. Tak ada bekas luka penganiayaan di tubuhnya. Diduga kuat driver ojol tersebut depresi dan melakukan bunuh diri. Berdasarkan keterangan dari orang tua korban, depresi yang dialami anaknya, lantaran faktor ekonomi yang terus terdesak (Pos Kota Online, 30/06/2022).

Berselang lima hari dari kejadian di Bekasi, beberapa media juga mengabarkan peristiwa yang sama. Seorang laki-laki berusia 35 tahun, yang bekerja sebagai pengemudi ojol nekat mengakiri hidupnya dengan meloncat dari jembatan Suramadu. Jasadnya ditemukan mengambang di Selat Madura dengan masih mengenakan jaket hijau berlogo Gojek. Sementara sepeda motornya ditemukan terparkir di atas  jembatan Suramadu beserta helm dan dompet yang berisi surat kendaraan dan identitasnya. Dikabarkan, pengemudi ojol tersebut mengalami depresi karena persoalan ekonomi hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. (Merdeka Online, 05/07/2022)

Cerita bunuh diri driver transportasi daring tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Singapura, seorang pengemudi taxi online dari perusahaan Grab, bunuh diri setelah ‘dipecat’ karena dilaporkan oleh penumpangnya atas tuduhan pelanggaran kode etik. Pihak Grab melakukan investigasi, memanggil pengemudi tersebut dan memecatnya. Keputusan Grab memecat hanya berdasar dari keterangan custumer, tanpa pernah dibuktikan secara hukum di pengadilan. Pemecatannya membuat sang pengemudi depresi. Karena terancam kesulitan secara ekonomi untuk menghidupi keluarganya, pada 19 Juni 2018, pengemudi tersebut memutuskan untuk mengakhiri hidupnya agar keluarganya bisa mendapatkan klaim asuransi dari kematiannya. (Singapore Uncensored, 16/07/2018)

Di Amerika, seorang pengemudi taxi Uber yang beroperasi di kota New York, bernama Fausto Luna, meninggal setelah meloncat tepat di depan kereta api yang sedang melaju, pada 26 September 2017. Fausto adalah pengemudi taxi Uber pertama di tahun 2017 yang bunuh diri di kota New York karena terjerat hutang. Sementara, bekerja sebagai pengemudi Uber tak cukup untuk menyelesaikan masalah keuangannya. Di saat yang sama, para pengemudi mengeluhkan upah rendah dan menuntut persaingan tanpa henti. Sebelumnya, 6 orang driver taxi online dari Yellow Taxi dikabarkan bunuh diri di New York, peristiwa bunuh diri tersebut terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. (New York Times Online, 07/10/2018)

Di Indonesia, sejak 2015 hingga 2022, terdapat 15 kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan pengemudi transportasi berbasis aplikasi di berbagai kota. Dari jumlah tersebut, 14 korban berjenis kelamin laki-laki dan 1 korban pengemudi perempuan. Rata-rata korban percobaan bunuh diri berusia 33 tahun. Dari 15 kasus tersebut, 13 kasus diantaranya terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Tabel Peristiwa percobaan bunuh diri driver ojol

Sumber: Dihimpun dari berbagai media

Sejak 2016, dua perusahaan transportasi berbasis aplikasi terbesar di Indonesia – Gojek dan Grab – secara bertahap mengurangi skema insentif dan bonus, serta tarif per kilometer. Itu berarti menurunkan pendapatan pengemudi sementara perusahaan memaksimalkan keuntungan. Perusahaan juga menambahkan target poin, yang berarti pengemudi harus bekerja lebih banyak untuk mendapatkan bonus.

Kebijakan semacam ini didorong oleh perlombaan ke bawah (Race to the bottom) transportasi berbasis aplikasi. Kebijakan Ini menguntungkan perusahaan dengan mengorbankan pengemudi/pekerja. Pendapatan mereka menurun dan mereka dipaksa bekerja lebih panjang untuk mengumpulkan pendapatan harian yang cukup.