Jasad Marsinah tergeletak tak bernyawa di sebuah gubuk pinggir sawah di Dusun Jegong, sekitar 100 meter dari kontrakannya di Desa Siring, Sidoarjo, Jawa Timur. Ini terjadi pada Mei 1993. Lima hari sebelumnya, Marsinah dan kawan-kawannya mogok di tempat kerjanya, PT Catur Putra Surya. Mereka bukan meminta saham, apalagi menguasai pabrik. Tapi menuntut kenaikan upah minimum, cuti haid, cuti hamil, dan hak-hak yang telah diatur dalam peraturan perundangan. Tuntutan Marsinah dan kawan-kawannya dibalas dengan pemecatan di kantor Kodim, bukan oleh lembaga yang berwenang memutus hubungan kerja. Di Medan, pada April 1994, kejadian serupa berlangsung. Ribuan buruh mogok menuntut tunjangan hari raya, kenaikan upah dan kebebasan berserikat.Read More →

Salah satu pertemuan penting di luar pertemuan tahunan International Monetery Fund (IMF) dan World Bank Group (WBG) di Bali adalah Forum Tri Hita Karana, yang dilaksanakan pada 9 – 11 Oktober. Kemudian disusul dengan pertemuan IMF-WBG pada 12 -14 Oktober. Seluruh kegiatan tersebut menelan pagu anggaran lebih dari Rp800 miliar. Dana yang relatif cukup untuk menyejahterakan guru-guru honorer yang mogok mengajar bulan September kemarin. Pertemuan Tahunan IMF-WBG dihadiri oleh hampir 20.000 peserta negara anggota IMF-WBG, investor industri keuangan dan sebagainya. Isu yang dibahas dalam pertemuan tahunan ini cukup luas; dari proteksionisme hingga persoalan gender. Pertemuan IMF-WBG ini selayaknya pertemuan multilateral tahunan, akan mengeluarkan resolusi, rekomendasiRead More →

“Bertahun-tahun saya rela masuk kerja lebih awal. Jam 6 pagi sudah bekerja padahal masuknya jam 7 pagi,” kata N, perempuan 41 tahun. Sembilan belas tahun N bekerja di PT Kaho 2 Bekasi Jawa Barat. “Apa balasan dari perusahaan?!,” nada N meninggi. “Line saya mengerjakan Nike,” cerita N bahwa dirinya bekerja di bagian sewing. “Pernah membuat celana pendek perempuan. Sejam harus selesai 200 potong. Kalau sehari bisa menyelesaikan 1800 sampai 2000 potong. Kalau membuat celana klub olahraga bisa mencapai 500 potong sehari. Kerjaanya keteter”. N mengetahui bahwa pakaian yang dibuatnya berharga mahal karena itu perusahaan dan Nike mendapat untung besar dari hasil kerja kerasnya. “Kalau bagianRead More →

Tidak lama setelah melahirkan anaknya, Intan (33 tahun) pergi ke Hong Kong mencari nafkah sebagai pekerja domestik. Intan ingat betul detail proses yang ia tempuh untuk menjadi pekerja domestik. “Saya mengetahui ada kesempatan kerja di Hong Kong dari sponsor yang merupakan tetangga di desa,” ujar Intan yang berasal dari Semarang. “Kamu kan butuh uang, sudah kamu kerja saja biar dapat gaji,” sambung Intan menirukan tawaran dari sponsor. Sponsor atau Petugas Lapangan (PL) merupakan istilah umum yang digunakan untuk merujuk pada seseorang yang mencari calon buruh migran dari desa. Oleh sponsor, Intan kemudian dibawa ke ‘PT’. PT istilah harian yang merujuk pada Pelaksana Penempatan Tenaga KerjaRead More →

Bentuk dan Modus Pemerasan Buruh Migran Keharusan membayar biaya penempatan untuk kasus Hong Kong diatur melalui Kepmen 98/2012. Aturan tersebut merupakan hasil revisi dari Keputusan Dirjen Binapenta 2008. Besarnya biaya penempatan yang ditanggung oleh buruh migran adalah sebesar Rp 14.780.400 (Lihat Tabel 1). Tabel 1 Komponen dan Besaran Biaya Penempatan Tanggungan Buruh Migran NO KOMPONEN JUMLAH (RP) Kurs Tukar JUMLAH (HKD) 1 Asuransi perlindungan TKI 400.000 1 HKD : 1.100 IDR 363 2 Pemeriksaan psikologi 250.000 227 3 Pemeriksaan kesehatan 700.000 636 4 Paspor 255.000 231 5 Biaya pelatihan (600 jampel) – Akomodasi dan konsumsi selama di penampungan (110 hari) – Peralatan dan bahan praktekRead More →