MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Jebakan ‘Ilusi Kekeluargaan’: Hubungan Kerja PRT dan Majikan, Tanpa Aturan dan Penuh Pemakluman

Kaum Sarinah, begitulah orang-orang yang memuliakan kelompok Pekerja Rumah Tangga (PRT) menyebutnya. Diambil dan dipopulerkan pertama kali oleh Presiden Sukarno dari kisah perempuan bernama Sarinah, yang bekerja memasak, mengasuh, merawat rumahnya. ‘Sarinah’ menggambarkan bagaimana PRT berkontribusi besar terhadap kerja-kerja reproduksi sosial. Sayangnya, kelompok ini secara historis tidak pernah diakui sebagai pekerja.

Pengakuan PRT sebagai pekerja dinilai sebagian orang tak layak didapatkan. Alih-alih akan menghilangkan nilai-nilai kekeluargaan, dalam konteks hubungan kerja, Ilusi kekeluargaan yang dibangun oleh para majikan justru berpotensi mengikis hak perburuhan, dan bahkan hak asasi sebagai manusia. Konsep kekeluargaan ini tak pernah menjamin hak-hak seseorang akan terpenuhi.

Setidaknya lebih dari 19 tahun kelompok PRT yang mayoritas perempuan ini menempuh berbagai upaya perjuangan untuk memperoleh pengakuan sebagai pekerja. Bersama Jaringan Advokasi Nasional Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT), mereka mendesak negara mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga. Sebagai bentuk pengakuan dan jaminan perlindungan hak-hak PRT.

Tak hanya itu, mereka juga mengorganisasikan diri ke dalam serikat pekerja, melakukan pemberdayaan untuk memperkuat agensi, serta mengkampanyekan bahwa mereka adalah pekerja rumah tangga, bukan ‘pembantu’, ‘babu’, ‘jongos’ apalagi ‘budak’. Kampanye tersebut upaya untuk menghapus stigma yang lahir dari sejarah panjang perbudakan di masa lalu.

Istilah-istilah tersebut tidak dengan mudah menghilang begitu saja. Keberadaan PRT yang secara historis bermula dari praktik perdagangan budak abad ke-19 M, ternyata mewariskan stigma yang buruk terhadap identitas pekerja domestik saat ini. Pasca-perdagangan budak pun, tatanan sosial masyarakat yang cenderung bersifat feodalistik menghantarkan identitas kelompok PRT sebagai seorang ‘abdi’ atau pembantu bagi keluarga kerajaan.